Belajar Banyak Hal dari Mendengarkan

Banyak dari kita yang tidak terlalu sabar untuk mendengarkan cerita orang lain, apa lagi aku yang dibesarkan dari lingkungan dalam keseharian larut dengan perdebatan kusir yang sangat sulit untuk mengakui apa lagi menerima argumentasi jelas berdasar fakta. Ada ego begitu besar mendesak untuk ikutan berbicara tanpa diminta.

Sangat sering diadakan seminar atau workshop yang terfokus untuk belajar menjadi pembicara publik. Apa kah kita menemukan event serupa yang bertujuan melatih kemampuan sebagai pendengar? Sungguh sangat langka tentunya.

“Da Tomi, bagaimana caranya jika aku tidak boleh menikah padahal itu adalah darah daging kami.” Sebut saja Peter yang sedang terisak mencurahkan hatinya.

“Saat ini aku memang bukan siapa-siapa, hanya seorang supir angkot dan baru saja bangkrut dari usaha. Namun bukan berarti tidak akan bisa bertanggung jawab.” Ia masih bercerita dengan isak tangis karena dilarang untuk bertemu dengan sang pacar yang sedang hamil, padahal sebagai pria Peter sangat ingin bertanggung jawab.

Peter adalah pria muda yang beberapa tahun lebih muda dariku, cukup terkenal karena punya rekam jejak sebagai penipu dan pengguna narkoba.

Bahkan ketika Ia datang untuk berkunjung dalam keadaan begitu insecure dan bagian ironis karena masa lalunya tidak ada orang-orang yang peduli bahkan menertawakan.

Hanya aku tidak ingin ikut menghakimi atau bahkan malah menertawakan penderitaan. Karena bagiku setiap orang tentu punya perjalanan masing-masin, meski memilih jalan salah dan merugikan bagi sesama manusia.

Beberapa hari lamanya Peter selalu datang dan tidak jarang tangis terjadi sembari meraung, aku tetap mendengar meski terkadang mulai jenuh karena sikapnya terkesan berlarut-larut hingga perlahan semua jadi membaik dan Ia mulai kembali tertawa. Dan bahkan pada masa ini Ia sempat berputus asa karena permasalahan yang dihadapi.

Sekitar 5 tahun kami kembali bertemu, Peter mengucapkan terima kasih atas kejadian di masa lalu. Karena hanya aku saja yang peduli padanya, walau beberapa bulan kemudian Ia kembali mengecewakan karena masalah uang dan kemudian menghilang.

Aku hanya tersenyum atas sikapnya. Sikap seseorang tentu di luar kendali kita bukan?

Ada kisah menarik lainnya yang ingin kubagikan padamu, kali ini terjadi di Bandung pada suatu malam Minggu yang dingin selepas menonton pertunjukan teater salah satu kampus seni. Seorang kawan wanitaku mengaku mengidap Bipolar (Bipolar Disorder).

Dari pengakuannya sebut saja dengan nama Anggun, suasana hati cenderung mudah berubah dari sangat bahagia menjadi begitu sedih. Bersemangat dan secara cepat bertransformasi ke rasa malas yang tidak terhingga.

Anggun seorang gadis yang kukenal dari dunia fotografi, memang awalnya jika diperhatikan Ia memiliki aura wajah cukup suram.

Matanya memancarkan keraguan dan kecemasan dan terkadang membuatku menjadi prihatin dengan hal tersebut, hingga pada suatu malam Minggu setelah kami usai menonton teater, kita terlibat percakapan panjang yang lebih mendalam akan kehidupan pribadi masing-masing.

Biasanya untuk memancing seseorang terbuka aku yang memulai bercerita, harapannya bisa membangun kepercayaan dari lawan bicara.

Karena tidak mudah tentunya terbuka jika tidak adanya kepercayaan dan rasa aman tersebut.

“Aku tidak dekat da dengan ibu, semenjak ayah tiada dan saudara laki-lakiku menikah hubungan dengan ibu terkadang berasa sebagai orang asing.” Anggun mulai membuka percakapan.

Kala itu kami hanya nongkrong di depan salah satu outlet jalan Dago. Suasana yang cukup terang dan masih banyaknya kendaraan silih berganti melaju tidak menimbulkan rasa khawatir meski waktu telah bergeser menuju tengah malam. Ketenangan dan dinginnya Bandung membuat suasana berasa makin sendu.

“Kurang paham aku dengan apa yang terjadi, ibu sudah sangat berubah seakan kita telah saling menjadi orang asing. Ketika aku pulang ke rumah Ia sibuk dengan aktifitas di luar rumah.” Anggun mendesah sembari matanya memandang lesu ke arah jalanan Dago yang mulai sepi.

Aku jadi terhenyak begitu diam, ketika mulai menyadari ternyata banyak orang di sekitar yang memiliki permasalahan lebih berat bahkan begitu menyesakkan dada.

Bagaimana seseorang menghadapi kehidupannya kita tidak mengerti, bahkan tanpa disangka-sangka.

Ditambah kemudian Anggun megaku kalau dirinya punya indikasi mengalami gangguan bipolar disorder, menurutku ini sudah memasuki tahap membahayakan karena tanpa diagnosa akurat tanpa melibatkan professional.

Berapa banyak orang di luar sana yang melakukan self-diagnostic dan bahkan mempercayai beragam informasi yang mereka temukan berseliweran dengan mudah di internet?

Pada kesempatan kali ini sebagai pendengar, aku tidak hanya diam menyimak tanpa memberikan komentar.

Karena jika tidak bertindak untuk mencoba membuka perspektif dengan harap menyadarkan Anggun maka dirinya bisa terjebak lebih mendalam pada zona suram dan merasa dirinya menderita gangguan mental.

Memang Ia sedang tidak aman dan dilingkupi perasaan rendah diri, namun aku percaya hal ini masih bisa dihadapi.

Perlahan setelah beberapa kali berdiskusi aku melihat Anggun sudah lebih mudah terbuka, bercerita banyak hal dan bahkan ketika menulis ini Ia telah kembali ke rumah dengan tujuan untuk membenahi hubungan baik dengan ibunya.

Bahkan ketika aku dilanda banyak permasalahan hidup, Anggun menjadi pendengar hingga memberikan saran yang lebih bijak.

Aku tidak ingin menyatakan bahwa ketika kita setelah berbincang denganku Ia menjadi pribadi lebih baik, setidaknya telah mencoba memberikan perspektif lebih baik untuk membukankan mata.

Satu poin di sini telah kita dapatkan, sebagai pendengar bisa saja membantu seseorang keluar dari beratnya permalasahan. Atau mungkin juga suatu saat tanpa disangka menggagalkan orang lain untuk bunuh diri. Siapa yang tahu?

Sebagai pegiat Street Photography yang tentu saja ruang bermainnya jalanan dan ruang publik, tentu akan sangat banyak memiliki kesempatan besar berinteraksi dengan berbagai orang baru.

Tidak jarang ke tempat asing yang baru pertama kali disinggahi, kita tidak bisa saja datang dan pergi seenaknya.

Dengan modal senyuman bisa dengan mudah memunculkan keakraban. Aku selalu menyempatkan waktu untuk bercengkrama dengan warga sekitar. Karena memang cukup menyukai untuk mendengarkan kisah apa pun itu.

“Ini namanya Kampung 200 dek, kenapa kampung 200? Dulunya kami di daerah atas sana dan kemudian digusur dipindahkan ke daerah pinggiran sungai ini kemudian hanya dikasih ganti rugi 200 ribu.” Seorang bapak yang aku temui di Kampung 200 berujar dengan sebatang rokok kretek menghiasi tangan kanannya. Nama yang asing bagimu?

Kampung 200 adalah kawasan tersembunyi di kota Bandung, banyak orang tidak mengetahui pemukiman yang tersusun di lereng pinggiran sungai Cikapundung, akses memang tidak mudah hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki atau kendaraan beroda dua.

Biasanya diriku bersama kawan-kawan pegiat fotografi. Kesan pertama ketika menyaksikan foto-foto yang diposting terlihat seperti di Rio de Janeiro, Brazil.

Suasana sejuk dari hiruk pikuk suara kendaraan syarat polusi tidak akan terdengar di sini, bagai sebuah lembah tersembunyi.

Menurutku sangat sayang jika kita berkunjung pada suatu daerah namun melewatkan kesempatan untuk bercengkrama dengan penduduk setempat, terkadang banyak informasi yang didapat bahkan hal itu bisa saja tidak ditemukan pada pencarian internet.

Dan aku percaya ketika kita mendengarkan orang lain bicara ada rasa dihargai sehingga dari sini lah bisa menjalin keakraban meski baru mengenal.

Pada lain kesempatan diriku bisa belajar dari tukang parkir, pedagang sayur di Pasar Induk. Ibu-ibu penjual kopi di persimpangan kosan Jln. Tubagus Ismail Depan daerah Dago. Karyawan rumah makan Padang dan sebagainya.

Dengan mendengarkan banyak pelajaran dalam hidup yang bisa didapatkan dari berbagai orang, hal ini juga melatih kesabaran untuk mengurangi ego atau malah mendebat karena merasa memiliki pengetahuan lebih baik atau argumentasi mendalam syarat bahasa filsuf nan sulit dipahami.

Mari belajar mendengar karena karena terlalu banyak bicara terkadang juga bisa melelahkan.

Tomi memiliki sedikit kemampuan fotografi dan desain grafis, serta videography.Cukup suka menonton film dan travelling.Saat ini sedang menjual es warna warni. Dan kembali belajar menulis di Quora.