Juan Muram: Dalam Ruang Tetap Produktif Masa Karantina #Dirumahaja

Produktif Pada Masa Karantina

Juan terbangun diserang dengan rasa bosan pada pagi cerah, pendaran cahaya hangat mulai meraba permukaan dinding putih tanpa hiasan poster artis cantik atau musisi rock. Tentu saja Ia merasa menghiasi kamar dengan wajah para idola sudah bukan lagi masanya.

Hal pertama yang dilakukan tidak lagi tergesa untuk menarik tubuh ke kamar mandi kemudian mengganti pakaian rapi untuk berangkat bekerja. Menunggu beberapa menit driver ojek online dan berdiri sekian puluh menit dalam kereta penuh sesak berbagai macam rupa manusia budak korporat, mahasiswa, petugas keamanan saja tidak bisa berlalu lalang di tumpukan tubuh yang berdiri sepanjang gerbong. Ada yang tertidur dengan mata masih bengkak kadang kepalanya bergoyang ke kiri-kanan mengikuti iram laju kereta.

Para lelaki yang sibuk bermain game online, atau hanya menonton anime. Sebagian perempuan melanjutkan memonton drama Korea yang sepertinya tidak memiliki episode cukup untuk dinikmati sampai puas.

Meski penuh sesak, sebagian besar dari Bogor, Bekasi atau Tangerang menghabiskan waktu lebih lama menuju lokasi kantor di Jakarta Pusat. Bangun di dinginnya Subuh sudah menjadi rutinitas para pencari nafkah ini. Mereka tidak pernah jera dengan segala rupa perjuangan dalam kereta.

Jangan heran kepada para pekerja di Jakarta bisa menghabiskan waktu minimal 4 jam sehari hanya untuk melakukan perjalanan pulang pergi, pada masa sepulang jam kerja wajah lelah dan terkadang aroma kurang menyenangkan dari tubuh berpeluh keringat sudah menjadi bagian tidak terelakkan.

Ada sebagian orang  yang terpaksa pulang lebih larut, hanya beberapa jam sebelum waktu tidurnya baru tiba di kediaman. Pulang menuju kamar kosan yang sempit atau rumah sederhana dan menemukan anak-anak lucu sudah tertidur lelap.

Pernah suatu ketika, Juan terpaksa harus pulang lebih lama bukan karena lembur yang memaksanya untuk lebih lama berhatan di kantor. Tapi serangan lelah yang mendera membuatnya tertidur sehingga kebablasan hingga terbangun saat kereta sudah berhenti di Stasiun Bogor.

Padahal seharusnya Ia turun di Stasiun Kalibata, jarak tempuh sekitar sejam lebih dari kantornya terpaksa menjadi jauh lebih lama sehingga semakin membuat lelah tubuh maupun psikis berlipat ganda.

Penghujung Desember pada tahun sebelum krisis melanda, malam dilingkupi hujan begitu lebat. Juan tidak membawa persiapan seperti payung dan bahkan penjual  mantel dadakan belum muncul di sekitaran pintu masuk Stasiun Manggarai.

Beberapa menit menjelang tiba kendaraan roda dua yang Ia tumpangi melaju cukup perlahan seiring dengan serangan hujan tanpa basa-basi mengguyur begitu saja.

Juan meminta driver untuk tetap melanjutkan perjalanan karena tujuan sudah tidak begitu jauh, dengan konsekuensi sebagian dari pakaiannya tidak terhindarkan dari basah. Sesampainya di peron untuk menunggu kedatangan kereta menuju Bogor.

Seperti biasa barisan manusia pekerja dan sebagian mahasiswa, sudah tumpah ruah dalam hiruk pikuk hujan berkolaborasi dengan suara operator yang cukup cerewet dari pengerasnya. Entah kenapa tidak ada orang yang merasa terganggu akan hal itu, hanya Ia merasa risih didukung dengan suasana tidak terlalu baik karena sedang bertengkar bersama pacarnya.

Kereta yang tidak kunjung datang memperburuk emosi meski sudah coba dialihkan dengan beragam playlist . The Beatles, Tycho atau bahkan Tame Impala. Semua itu tidak pernah dirasa cukup, lebih parahnya ketika kereta baru saja datang.

Desakan barisan manusia berseragam rapi yang terlihat sudah tidak ramah karena lelah berlaku bar-bar untuk berebut masuk menuju pintu, ada pria berkaca mata bulat gaya John Lennon menarik perempuan berhijab panjang di depannya.

Pria itu menerima sikutan dari pria lainnya yang berstelan tidak kalah rapi, bedanya dengan sedikit lebih banyak bulu di wajah dan tanpa kaca mata. Di belakang mereka terjadi pergulatan antara 2 orang wanita yang saling cakar berteriak saling menyahut menyebut semua nama binatang paling populer untuk dilontarkan saat mencaci maki.

Pada situasi seperti ini nama binatang selalu sukses besar mengalahkan eksistensi artis besar, BTS mah lewaaat. Para petugas keamanan hanya termangu sekitar 2 menit 13 detik, parahnya beberapa orang intelektual ini.

Setidaknya begitu lah tampilan luar mereka, malah menimbulkan kemarahan para manusia penumpang kereta lainnya sehingga kerusuhan menjadi lebih besar. Tidak jelas siapa yang lebih terpelajar atau beradab. Nalar telah terkikis oleh amarah acak tak beralasan.

Oh tidak, tentu saja ini hanya imajinasi Juan pria penghayal yang suka membayangkan kejadian rumit karena dirinya sudah terkontaminasi oleh adegan dari film-film Final Destination. Begitu lah, dampak rutinitas kerja kadang kala membuatnya merasa tidak waras, tertekan dan ingin kabur dari dunia realita yang harus dihadapi. Selalu begitu dari Senin sampai Jum’at dengan akhir pekan juga  kadang tidak terlalu menarik.

Namun, ketika beberapa minggu ini Ia dipaksa bekerja dari rumah. Segala lelah dan umpatan kekesalan sebagai budak korporat malah terasa bagai candu yang membuatnya merasa lebih bermakna dalam menjalani kehidupan.

“Ah aku rindu sesaknya dalam gerbong kereta, berebut bangku. Terburu-buru mengejar angkot atau kadang Kopaja. Jahatnya kamu Corona!” Juan mengumpat tanpa ada yang mendengarkan selain Tuhan atau malaikat.

Segala kebosanan berdiam diri di kamar sempit pengap dan lembap ini menimbulkan kesepian karena hanya tinggal sendirian. Lebih parahnya penyebaran virus Corona juga bisa melalui interaksi dan bersentuhan dengan berbagai benda yang mungkin bisa berujung pada penularan lebih masif. Penyakit mematikan yang memaksa manusia untuk tidak keluar rumah, bahkan harus menjaga jarak ketika bertemu satu sama lain.

Suasana hati Juan juga semakin memburuk, efek baru putus cinta belum begitu pulih. Harusnya pada fase ini Ia menyibukkan diri dengan beragam hal. Usaha move on malah semakin menyiksa.

Ingin kah kamu pada situasi seperti ini? Barisan berita dari LINE Today yang tentu telah dikuasai oleh Tribun hanya berisikan tentang berita pandemi Corona yang telah menggeparkan seluruh belahan dunia, bahkan membuat ekonomi lumpuh. Hingga korban jiwa makin bertambah tiap hari, dan perilaku bandel orang Indonesia yang tidak mau menuruti himbauan pemerintah ikut serta membuatnya jenuh.

Hati dan pikiran makin sesak, produktifitas menurun.

Sore di bulan ketiga pada hari Sabtu, Juan membersihkan kamar yang telah lama tidak terurus. Banyak debu di sudut meja kerja, kasur hingga belakang pintu tempat menaruh gantungan pakaian. Tumpukan bekas sobekan kertas yang telah remuk berserakan di luar tong sampah.

Itu semua kumpulan semua sumpah serapah akibat sakit hati putus cinta serta barisan puisi hasil ungkapan beragam emosi. Karya-karya yang tidak pernah dipublikasikan ini hanya berakhir menjadi sampah.

Melihat tumpukan kertas hasil katarsis ini membuat hatinya jadi luluh, membuka satu persatu kemudian mencoba mengembalikan pada wujud utuh lembaran dan kemudian ditata dengan jepitan kertas. Untuk pertama kalinya Ia merasakan menghargai kumpulan tulisan yang tidak pernah dianggap bermutu ini.

Beberapa baju bekas pakai yang bergelantungan mulai menyisakan bau apek, meski masih kalah dengan wangi parfum ruangan otomatis menyala pada waktu tertentu. Dan bunyinya seringkali mengejutkan dalam keheningan.

Meja kerja Juan tidak berbeda jauh dengan kepunyaan meja belajar pada umumnya, beberapa buku fiksi dan non fiksi serta bebeberapa diktat kuliah tersusun dari atas ke bawah berdasarkan ukurannya. Ada beberapa yang masih belum dibaca, kebisaan buruk yang masih tidak berubah  untuk menunda menyelesaikan suatu buku.

Unit lengkap komputer pribadi sisa masa kuliah masih sering digunakan, perangkat kerasnya sudah mengalami beberapa kali peningkatan sehingga masih cukup untuk memenuhi kebutuhan bermain games dan kebutuhan penggunaan aplikasi grafis.

Biasanya Juan rajin membersihkan debu pada kipas bagian dalam motherboard maupun VGA. Namun, 6 bulan terakhir Ia sudah terlalu sibuk menghabiskan waktu di dunia pekerjaan dan kegiatan komunitas fotografi yang baru saja mencuri perhatian. Ditambah dengan waktu lainnya diisi dengan jadwal kencan bersama Priscilia yang saat ini sudah menjadi mantan pacar.

Setelah usai  membersihkan meja kerja serta komputer, tiba-tiba saja mulai mulai keinginan untuk mencuci manual pakaian. Padahal sudah hampir 3 tahun selalu menggunakan jasa laundry yang lebih praktis. Meski kadang harus menahan kekesalan karena kehilangan beberapa stel pakaian.

Tidak terasa 3 jam 25 menit 40 detik dihabiskan cukup sukses membuat tubuhnya merasa sedikit lebih baik dan pikiran juga terasa lebih tenang.

“Wow, berbenah ini ternyata bisa membuatku berkeringat.” Ujarnya dalam hening kamar.

Sembari menunggu lelah dan keringat dingin. Juan mencari berbagai referensi untuk melakukan olahraga ringan yang bisa Ia lakukan di kamar sempit pojokan lantai tiga ini.

“Nanti juga lu capek rebahan terus dan bergalau ria, kalau udah muak elu bakal jadi lebih produktif. Nikmati aja bro.”  Nasihat Petra sahabatnya terngiang begitu saja ketika mulai mengguyurkan air dingin hingga kesegaran menyapa tubuh.

Kegiatan membersihkan seluruh sudut kamar membuat Juan merasa tercerahkan untuk sedikit menghilangkan kebosanan dan mengalihkan suasana hati yang makin tidak karuan pada masa karantina dengan minimnnya aktifitas di luar ruangan.

Pada malam hari selepas mencari makan, baginya Pecel Lele saja sudah cukup. Juan mulai membuka beberapa koleksi film yang sudah ditata dengan folder masing-masing. Koleksi Trilogy The Lord of the Ring hampir menjadi pilihan untuk menghabiskan sisa waktu menjelang rasa kantuk mengambil alih kesadaran.

Namun menjadi teralihkan karena kerinduannya untuk menonton kembali The Dark Knight karya tangan dingin Christopher Nolan masih memanggil-memanggil supaya diulas lebih mendalam pada blog pribadinya.

Juan selalu tidak bisa berdiam diri, meski cukup sering  mengeluarkan keluhan serta umpatan mengenai pekerjaan. Namun, di luar itu semua Ia juga memiliki kesibukan lain seperti menulis blog ulasan film yang sudah bercampur dengan catatan perjalanan dan jurnal dari beragam pengalaman yang telah Ia alami.

Kesibukan seperti ini sudah lama tidak ditekuni karena masa kasmaran pacaran membuatnya mencurahkan perhatian begitu besar. Padahal Priscilla tidak selalu meminta waktu diperhatikan atau selalu menginginkan ditemani ke mall atau bimbingan skripsi di kampusnya.

Ia adalah seorang gadis mandiri yang juga punya beragam aktifitas, cukup dewasa secara emosional sehingga hubungan mereka jarang memiliki drama berarti.

Bagi Juan kembali menonton film sambil mencatat tiap detailnya adalah salah satu langkah produktif untuk menjaga kewarasan. Yang bagi sebagian orang masa karantina #dirumahaja yang didengungkan oleh Mr. Presiden membuat mereka merasa tertekan hingga mudah memicu stres.

Film bisa menjadi alternatif terbaik untuk mengalihkan kegusaran dari menakutkannya pandemi Corona, media online dan bahkan beragam grup chat tidak luput dari serangan tukang copy paste berita.

Karya-karya Christopher Nolan memang memiliki gaya tidak biasa dalam penceritaan, selalu memiliki kedalaman emosi dan bagi berat untuk dicerna bagi kebanyakan orang awam, dari sisi sinematik juga lebih sering bernuansa muram.

Pada The Dark Knight karakter Bruce Wayne yang diperankan oleh Christian Bale tidak menjadi superior yang mendominasi setiap pertempuran. Malahan tokoh antagonis Joker diberikan porsi sangat besar memberikan terror kota Gotham.

Ia bukan lah manusia yang punya kekuatan super sama seperti Batman. Namun kecerdikan yang juga tergolong sadis bahkan gila begitu sukses membuat kita yang menonton menjadi emosional.

Karakter Joker yang diperankan oleh Heath Ledger masih menjadi pembicaraan hangat yang menarik bagi banyak pencinta film bahkan sebelumnya munculnya Joker (2019) yang juga meraih Oscar, dimainkan sangat apik oleh Joaquin Phoenix. Sangat jarang kita menemukan film yang membuat penonton mengidolakan karakter antagonis.

Selain menikmati penceritaan nan apik serta kekuatan akting, bagi Juan menonton film juga bisa mendapatkan referensi bagus mengenai sinematografi. Ia menekuni fotografi sudah lebih dari satu dekade, selain berkutat dengan pekerjaan ada juga beberapa proyek pribadi yang telah dirilis secara online maupun dalam bentuk cetakan fisik.

Dengan menonton film Juan mendapatkan berbagai pencerahan yang akan bisa memperkaya warna bagi dirinya dalam hal penceritaan baik itu ketika berkarya menggunakan medium bahasa visual maupun teks. Menjelang tengah malam Ia sudah terkapar tanpa belum sempat menamatkan Trilogy The Dark Knight.

Menonton film cukup bisa membuat pikiran dan perasaan Juan teralihkan dari segala kejenuhan hingga kesepian sendiri di kosan. Meski memang masih bisa terhubung bersama rekan kerja maupun komunitas melaui layanan pesan singkat.

Bagaimana jika pandemi ini terjadi pada masa sebelum komunikasi begitu lancar yang dimudahkan oleh internet?

Juan membayangkan orang-orang mengisolasi diri dalam rumah, jika pada masa telepon sudah ada. Tentu menggunakan fasilitas umum menjadi momok tersendiri karena penyebaran virus Covid-19 bisa melalui perantara benda mati.

Film-film terror seperti Resident Evil telah membuat khayalnya berkeliaran kepada ketakutan lebih besar. Tiba-tiba Ia dikagetkan oleh nada dering panggilan telepon pintar yang hanya berlangsung beberapa detik.

“Oh, panggilan tidak terjawab,” Ujarnya. Namun ada kegelisahan yang kemudian muncul ketika melihat barisan 12 angka yang belum tersimpan dalam daftar kontak itu. Dua digit angka terakhir adalah 88 dari provider Telkomsel. Nomor yang sangat tidak asing baginya.

Kemudian rasa penasaran itu terjawab oleh satu pesan WhatsApp.

“Juan, aku harus jujur selama masa karantina ini mulai menyadari. Bahwa tidak bisa lebih lama seperti ini, ada perasaan tersiksa dan semakin menguras energi. Terlihat baik-baik saja itu sulit, mencoba mengalihkan perhatian hingga berupaya melupakanmu malah semakin memperburuk keadaan.

Aku jadi rentan, bahkan ada orang yang ingin berteman baik denganku digunakan untuk membuat kita saling menjauh. Aku minta ma’af karena telah menyakiti dan membuatmu sangat kecewa. Sungguh benar-benar menyesali segala keputusan yang tidak dipikirkan lebih baik”

Ada perasaan bergejolak, senang bercampur amarah karena Pricilia mantan pacarnya yang sekitar 2 bulan sebelumnya memilih mengakhiri hubungan juga melalui pesan WhatsApp. Juan menjadi emosi dan ingin menuliskan beberapa kalimat menyakitkan karena ketika membaca pesan ini, luka yang baru berangsur pulih seakan ditetesi kembali oleh perasaan air jeruk. Perih kawaaan.

“Ya sudah lah, dia yang mau pergi. Capek ah kalau nanti tiba-tiba dia menyerah lagi.”  Ia menghapus pesan dari Priscilia tanpa memberikan respon apapun. Kemudian beralih mengguyur tubuh mendinginkan suasana berharap pikiran kembali jernih.

Di kamar mandi pikirannya melayang kepada perjuangan beberapa bulan ini, sakitnya ditinggalkan oleh pacar dan dalam waktu tidak lama Priscilia telah berhasil mendapatkan pengganti.

Ini membuatnya dilanda kesedihan serta kekecewaan begitu mendalam, baru sekitar dua minggu terakhir mulai bisa benar-benar menerima keadaan dan mengikhlaskan. Dan sekarang yang memberi luka itu tiba-tiba ingin kembali, kadang wanita juga bisa lebih sadis dari pada para pria.

Hari itu udara Jakarta sama seperti biasanya, tidak terlalu bersahabat. Bahkan langit yang sepintas terlihat dari jendela warnanya masih tetap muram sebelum Corona menyerang.

Polusi sepertinya masih betah untuk bertahan hingga udara belum begitu bersih. Bedanya suasana berisik cukup berkurang karena barisan panjang kendaraan berlalu lalang dalam kemacetan sudah sangat bekurang melenggang.

Juan menikmati hari ini ditemani dengan segelas besar es lemon kemasan untuk pendamping membaca buku. Novel The Oldman and the Sea karya Ernest Hemingway sudah diincarnya selama tiga tahun terakhir, setelah secara tidak sengaja berjumpa  pada suatu pameran buku yang memberikan diskon cukup menggiurkan akhirnya karya peraih Nobel Sastra pada tahun 1954 ini dibeli bersama satu judul lainnya Fiesta.

Tulisan Hemmingway pernah dikritik banyak pihak karena dianggap kurang efektif, padahal Ia punya cara penulisan yang sangat khas. Menggunakan padanan kata ringkas dengan sederhana, selalu menyisakan imajinasi menggelitik liar bagi para pembaca. Penuturannya gamblang sangat mudah dipahami.

Meskipun tidak menjelaskan secara panjang lebar setiap detail yang bisa membuat alur berjalan lambat, Hemmingway masih bisa menuntun pembaca memahami tiap informasi seperti karakter dan situasi meski hemat dalam penggunaan kata pada suatu kalimat.

Bisa terlihat pada novel Fiesta yang mengisahkan sekumpulan orang menengah ke atas. Penyuka pesta dan perayaan adu banteng. Bagi Juan yang tidak terbiasa dengan gaya hidup karakter-karakter pada novel ini, awalnya cukup sulit memahami hingga memvisualkan.

Berkat kepiawaian Hemmingway Ia bisa masuk ke dalam cerita, meski konflik pada novel tidak terlalu menyita perhatian pada kedalaman emosi. Tetap cukup menarik untuk disimak, hal ini mengingatkannya pada novel berjudul Hujan di Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Sangat terkenal dengan puisinya Aku Ingin.

The Oldman and the Sea adalah novel yang tidak terlalu panjang untuk kelasnya, penggunaan karakter juga terbilang cukup sedikit. Ketika larut pada pertengahan alur Juan jadi teringat pada adegan dari film Life of Pie. Saat tokoh utama sudah berada di tengah lautan bersama perahu kecil dan seekor harimau buas.

Bedanya pada novel ini dikisahkan seorang pria tua dengan perahunya yang mencoba mencari ikan di musim sulit. Mirisnya ketika seekor ikan besar telah didapatkan, hasil perjuangan lelah dari siang hingga malam tidak membuahkan hasil berarti, karena hiu berdatangan menyerang bangkai ikan tangkapannya.

Sembari terjebak pada sihir rangkaian kata Hemmingway, Juan membayangkan dirinya seperti apa nanti jika sudah menua. Seringkali bayangan untuk tinggal pada pondok mungil di puncak bukit yang di kelilingi padang rumput terhampar begitu luas. Hanya pohon besar menemani, di sela-sela menunggu mahatari tenggelam Ia menikmati secangkir kopi sambil membaca buku atau menulis sajak.

Tapi apakah Ia bakal bisa bertahan dari kesepian? Atau candu dari internet sudah sangat berpengaruh besar pada kebiasaan peradaban manusia saat ini?

“Kenapa dengan kesepian? Setiap hari-hariku sudah sangat akrab dengannya, bahkan detik ini juga. Masa karantina ini hanya lebih membuatku tersadar bahwa ada atau tiadanya kesibukan, hidupku tidak terlalu berbeda.” Juan hanya bergumam tanpa bisa membaginya, karena tentu saja tidak semua orang akan bisa mengerti dan menjadi teman yang baik ketika berkeluh kesah. Ini lah yang membuatnya menjadi pribadi yang terbilang misterius karena cukup tertutup.

Berhubung karena buku telah dibaca sepertiga bagian, kadang hanya sebagai pengisi waktu luang di dalam kereta.  Juan menghabiskan 3 jam 41 menit untuk menamatkannya, akhirnya Ia berucap syukur karena masih diberi kesempatan untuk menikmati karya nama besar dari salah satu penulis terbaik dunia.

Selalu ada kelegaan dan kepuasaan yang sulit diungkapkan, baginya klimaks itu bukan tentang menarik atau tidaknya akhir dari suatu cerita pada buku novel. Tapi ketika berhasil membaca sampai akhir.

“Film lebih mudah dipahami karena jelas terlihat semua adegan ditambah akting, musik serta sinematografi. Sedangkan buku tidak seperti itu, ada usaha lebih untuk memvisualisasikannya, makanya mungkin kamu lebih mudah mendapatkan teman yang suka menonton film dari pada memilih waktu berjam-jam diam untuk membaca buku. “  Suatu ketika di kedai kopi pinggiran Stasiun Tebet Priscilia terlibat obrolan dalam bersama Juan setelah mereka menonton Instersellar. Masih karya yang sama dari sutradara muram nan rumit Christopher Nolan. Begitu lah Juan menggambarkannya.

Menonton film dan membaca buku bagi Juan adalah suatu hal yang sulit dilepaskan, karena dari membaca Ia merasa mendapatkan banyak ilmu baru. “Buku adalah jendela” kutipan tersebut selalu Ia tersemat dalam hatinya. Karena selalu saja menempel pada sampul belakang buku semasa Sekolah Dasar, sedangkan film selain menghibur ada pergulatan emosi yang menurutnya tidak bisa didapatkan dari sensasi membaca. Lebih kurang seperti yang dijabarkan Priscilia.

Beberapa hari ini Juan mulai memutuskan untuk mengurangi intensitas di media sosial, memantau notifikasi Instagram atau Facebook hingga menonton stories mulai ditinggalkan. Karena ini bakal mengganggu. Ia coba menjauhkan telepon pintar dengan jarak lebih kuran dari 2 meter dan mematikan bunyi pemberitahuan selain nada panggilan suara. Alhasil Ia merasa jauh lebih tenang hingga bisa melakukan hal produktif seperti membersihkan kamar, menonton film, hingga membaca buku.

Blog lamanya yang sudah lama tidak terurus mulai kembali diisi dengan ulasan film The Dark Knight yang telah ditonton untuk kesekian kalinya. Sepertinya untuk postingan berikut juga akan diisi dengan artikel resensi novel Ernest Hemmingway The Oldman and the Sea.

Saat sedang asyik menikmati album terbaru Tame Impala dengan judul The Slow Rush. Perhatian Juan tiba-tiba terganggu oleh suara panggilan telepon. No tidak dikenal yang tempo hari mengirimkannya pesan seakan menuntut balasan dan jawaban pikirnya.

“Halo Juan, aku minta ma’af. Apakah masih begitu marah? Aku sudah mengirimkan pesan dan kamu tidak menjawab sampai hari ini. Aku tidak kuat jika kita harus saling menjadi orang asing kembali, setelah berpisah sosokmu tidak mudah tergantikan. Sungguh aku menyesali keputusan itu.” Suara tercekat yang sepertinya mulai berubah menjadi isak tangis dari seorang gadis yang pernah mengisi malam sepinya menjelang tidur.

“Pris, aku kurang paham maksudmu apa? Bukankah sudah punya pacar dan mudah menggantikanku?” Juan merasa sedang meski ada ragu dan sedih bercampur aduk hampir saja berubah menjadi amarah.

Beberapa saat Priscilia membisu, tangisnya semakin menjadi-jadi. “Bukankah pesanku sudah cukup jelas Juan? Aku ingin kita kembali bersatu, terserah kalau nantinya kamu mengganggapku rendah atau apa, aku tahu telah salah dan begitu mengecewakan”

“Baik lah Pris, nanti jam 10 malam kita bicara lebih lanjut ya, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan” Juan menutup telepon dengan perasaan gundah dalam kamar sempit dan panasnya Jakarta.

Tomi memiliki sedikit kemampuan fotografi dan desain grafis, serta videography.Cukup suka menonton film dan travelling.Saat ini sedang menjual es warna warni. Dan kembali belajar menulis di Quora.