Pentingnya Memahami Penderita Gangguan Mental Belajar dari Film Joker (2019)

Sebuah Pesan Menohok Terlepas dari Segala Teori Ambigu Pada Akhir Film Joker (2019)

Film Joker (2019) telah sukses menjadi pembicaraan di berbagai forum daring. Ada yang membahas kontroversi seperti berbahayanya bagi anak-anak atau orang yang sedang depresi. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa gangguan mental mendapatkan cukup besar pada film ini.

Pendalaman karakter yang dibawakan oleh Joaquin Phoenix memang begitu mencuri perhatian dari awal kemunculannya pada trailer yang dirilis kanal resmi Warner Bros.

Dan belakangan juga banyak berseliweran quotes: “orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”. Saya rasa ini bukan pesan moral yang tepat untuk dibagikan dan bahkan bisa menjadi pembenaran untuk melakukan aksi kriminal.

Dan di linimasa Facebook sering juga saya menemukan postingan status yang lebih kurang seperti ini: “film Joker (2019) memang tidak layak ditonton karena hanya menyajikan kisah orang gila”.

Terlalu dangkalnya kita memahami informasi sering kali bisa melupakan atau bahkan menutup diri mencoba menggali suatu perihal dengan beragam sudut pandang.

Oleh karena itu, pada artikel ini lebih menyoroti tentang penderita gangguan mental.

Sepanjang kisah Batman, karakter Joker selalu digambarkan sebagai penjahat psikopat sadis. Hal ini digambarkan sangat baik oleh Heath Ledger pada film The Dark Knight (2008) hingga Ia sukses meraih Oscar dengan kategori Best Performance by an Actor in a Supporting Role.

Jika kamu belum menonton Joker (2019) tolong jangan terlalu berharap akan menemukan aksi seru layaknya sekumpulan pahlawan super Marvel pada film Avengers.

Sepanjang film mengisahkan Arthur Fleck yang menderita gangguan mental, terkadang bisa tertawa sendiri meski sedang tidak bahagia.

Kesepian yang begitu dalam terlihat jika Ia sedang tidak bersama ibunya Penny Fleck.

Hanya bersama Penny lah Arthur terlihat begitu riang, ternyata hal ini juga atas tuntutan si ibu yang menuntut Ia terlihat selalu bahagia, bahkan dipanggil khusus dengan nama Happy.

Diremehkan, dianggap ‘aneh’, perundungan bahkan mudah dituduh melakukan pencurian tanpa diberikan kesempatan membela diri sudah menjadi bagian dari kehidupan Arthur.

gangguan mental, Udasukaria
Photo: IMDb

Kisah Arthur Fleck ini memang pas untuk merepresentasikan bagaimana perlakuan kehidupan sosial terhadap para penderita gangguan mental.

Arthur Fleck dan Psikiater

Di awal film sudah ditampilkan momen Arthur sedang berkonsultasi dengan Psikiater, ini langkah cukup bagus karena ada upaya menangani segala permasalahan psikis yang dialami.

Tentu banyak juga orang di Indonesia tidak melakukan hal seperti ini, bukan tanpa sebab. Bagi sebagian kalangan masyarakat ada stigma buruk terhadap penderita gangguan mental. Lebih menakutkan lagi jika dianggap sudah gila.

Sehingga jika ketahuan ke Psikiater bisa ditertawakan, atau juga ada ketakutan menerima fakta bahwa keadaan psikis yang tidak begitu sehat.

Gangguan mental adalah aib

Hal ini tidak perlu saya sajikan dengan data. Cukup dengan melihat di sekitar kita, apa yang terjadi jika salah satu anggota keluarga di lingkungan Anda mengidap skizofrenia?

Skizofrenia adalah gangguan mental yang terjadi dalam jangka panjang. Gangguan ini menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku. Gejala tersebut merupakan gejala dari psikosis, yaitu kondisi di mana penderitanya kesulitan membedakan kenyataan dengan pikirannya sendiri. Sumber: Alodokter.com

Penderita skizofrenia sering kali dianggap gila, karena memang berdasarkan defenisi di atas penderita bisa aja berbicara sendiri karena terjebak oleh halusinasi.

Untuk memahami betapa sulitnya yang mereka hadapi saya sangat menyarankan Anda menyimak audio berikut:

Setelah Anda benar-benar menyimak audio tersebut masih layak jika mereka dipasung? Atau mendapat hinaan karena penyakit yang mereka derita?

Skizofrenia bisa ditangani dan dibuat stabil. Saya sangat menyarankan Anda menonton A Beautiful Mind (2001).

Diangkat dari perjuangan John Nash seorang ahli matematika yang juga mengidap skizofrenia, berkat kesabaran istrinya Alicia untuk selalu menemani hingga perlahan stabil hingga berhasil meraih Nobel.

Ini suatu contoh nyata bahwa stigma buruk terhadap orang yang dianggap gila tidak seburuk dugaan, mereka hanya butuh perhatian dan kesabaran lebih sebagai dukungan moril.

Kurangnya edukasi tentang bagaimana cara yang tepat menangangi penderita gangguan mental bisa jadi akan memperburuk keadaan

Toxic positivity

Anda dan saya yang menulis artikel ini tentu sudah terbiasa menerima curhat dari beragam orang. Namun ternyata apa yang kita sarankan tidak selalu bisa menyenangkan bagi rekan yang berkeluh kesah tersebut.

Seperti yang ditulis oleh media Tirto pada artikel Toxic Positivity: Saat Ucapan Penyemangat Malah Terasa Menyengat. Tidak semua kalimat penyemangat bisa bisa membuat seseorang merasa lebih baik, ironisnya malah menimbulkan rasa rendah diri.

Karena para kondisi insecure diminta berpikir bisa menjadi beban tambahan terhadap penderitaannya.

Jangan menghakimi

Anda mungkin bisa saja muak karena tiba-tiba ada teman yang meminta waktu seharian penuh untuk didengarkan. Dengan mudah muncul istilah toxic friendship.

Ini memang pilihan, namun coba bayangkan jika posisi tersebut adalah diri Anda yang sedang butuh pendengar setidaknya teman untuk berkeluh kesah, kemudian semua orang malah menjauhi?

Bagaimana jika nanti seorang teman ini berakhir bunuh diri karena merasa sangat kesepian dan tidak bisa menghadapi permasalahannya?

Saya akan sangat menyesali jika hal ini terjadi pada teman sendiri. Sayangnya pada lingkungan sosial kita, orang yang galau malah menjadi bahan untuk bercanda. Kemudian berlangsung lah perundungan.

Pengasingan lingkaran sosial sungguh bukan tindakan bijak. Karena k tidak pernah tahu bagaimana seseorang berjuang dan mencoba untuk tertawa meski dalam kecemasan atau bergelut dengan keputus asaan.

Mari mendengar

Tidak sulit mencoba peduli akan sesama, jangan hanya terjebak karena stigma buruk yang belum begitu dipahami.

Film Joker (2019) semoga bisa membukakan mata terhadap penanganan penderita gangguan mental.

Meski saya bukan seorang konseling, sejauh ini sudah cukup banyak mendengarkan keluh kesah berbagai orang.

Tulisan ini ditulis semata-mata karena kepedulian akan sesama.

Tomi memiliki sedikit kemampuan fotografi dan desain grafis, serta videography.Cukup suka menonton film dan travelling.Saat ini sedang menjual es warna warni. Dan kembali belajar menulis di Quora.

Leave a Reply