Merespon Perdebatan Intelektual Proyek Fotografi Buru Babi Yoppy Pieter

Dugaan Narasi Pincang dan Plagiarism

Beberapa hari ini forum fotografi yang saya ikuti begitu hangat membahas kritikan terhadap proyek jangka panjang Buru Babi yang dikerjakan oleh Yoppy Pieter.
Saya mendapatkan chat dari kawan di Bandung serta melampirkan link situs Sore Rabu dengan nama penulis Ramadhani.
Dibaca dengan seksama, ada beberapa point yang menjadi sorotan saya diantaranya:
  • Politik identitas
  • Maskulinitas
  • Dominasi Matriarki
  • Nilai anjing
Saya hanya tertawa ketika itu, ternyata Yoppy Pieter punya sudut pandang yang begitu mendalam terhadap perhelatan Buru Babi.

Sedangkan dalam pandangan saya kegiatan ini tidak lebih dari me time kalangan pria untuk memanjakan dirinya sejenak dari rutinitas harian.

Tentu apresiasi patut diberikan kepada Yoppy karena telah mencurahkan perhatian begitu besar terhadap budaya Minangkabau, bukan kali pertama karena Saujana Sumpu telah lebih dulu terbit dan dinikmati oleh berbagai kalangan.
Sebagai anak Minang dan sesama pegiat fotografi proyek ini tentu menyentil saya kenapa malah orang lain yang mengangkat topik seperti ini? Terima kasih buat Yoppy Pieter.
Jika ingin membahas lebih jauh kurang fair jika tidak meninjau terlebih dahulu statement apa yang memantik kritikan diluncurkan oleh Ramadhani.
Twice a week, Minangkabau men in West Sumatra would gather and walk into the woods to practice Buru Babi, or wild boar hunting. In the past, men would train their dogs to protect their wifes’ family’s farm from wild boar.
West Sumatra is home to the Minangkabau tribe, Indonesia’s matrilineal society who also practices Islam. In their tradition, the men’s patriarchal role is largely influenced by the ruling matriarch, which is assumed by the wife’s family. 
Living in this apparent contradiction between traditional customs and Islamic constitution has led Minangkabau men to establish and thrive in spaces not occupied by women. As an extreme sport that is entirely masculine, Buru Babi is transformed into a medium of identity politics for men to strengthen and assert their masculinity within the domination of the Minangkabau matriarchs. 


Begitu lah narasi pengantar yang dituliskan pada proyek fotonya.

Saya juga menjadi termenung beberapa saat,
 

Atas dasar apa Buru Babi bertransformasi menjadi politik identitas yang disinggung di sini adalah gender? 

Apakah Matrilienal otomatis menjadikan masyarakat Minang menjadi matriarki dan didominasi perempuan?

Dan mengernyitkan dahi ketika mengaitkan dengan maskulinitas.
mas·ku·li·ni·tas n kejantanan seorang laki-laki yang dihubung-kan dengan kualitas seksualnya: masyarakat kita berasumsi bahwa — mempunyai ciri-ciri tertentu

Menurut defenisi KBBI. Wah tentu Yoppy Pieter punya alasan bagus untuk menjelaskan bagian ini.
Mari kita bahas sedikit pengetahuan umum yang menjadi bagian mata pelajaran muatan lokal yaitu Budaya Alam Minangkabau (BAM).
Sistem kekerabatan 

Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal sehingga garis keturunan berdasarkan ibu.

Dengan bonus tambahan harta pusako serta tanah ulayat juga diberikan hak guna kepada kaum perempuan. Dan ini diwariskan turun temurun tetap kepada pihak perempuan.
Hanya Datuak serta bagian Tungku Tigo Sajarangan yang mendapat hak guna tanah ulayat (selama masa menjabat).
Sistem kepemimpinan
Lebih dikenal dengan struktur Tungku Tigo Sajarangan terdiri dari Pengulu (dalam sehari-hari dipanggil Datuak), Malin (Alim Ulama), Manti (Cadiak Pandai). Semua dijabat oleh laki-laki
Datuak memang diposisikan sebagai pemimpin utama dari kaum suku yang dipimpinnya. Namun, bukan berarti menjadi pengambil keputusan tunggal karena Minangkabau juga menganut musyawarah mufakat.
Selain Tungku Tigo Sajarangan tidak bisa juga lepas dari dari peran Niniak Mamak. Terdiri dari saudara laki-laki ibu yang masih satu suku.
Dalam kasus tertentu Niniak Mamak bisa menjadi penentu seseorang diterima atau tidak sebagai menantu (Sumando). Bahkan keputusan mamak lebih berpengaruh dibandingkan kedua orang tua anak yang bakal menikah.
Kerapatan Adat Nagari (KAN)
Ketika ada musyawarah di KAN yang berhak hadir adalah Tungku Tigo Sajarangan serta Dubalang dari setiap perwakilan suku.
Fungsi KAN menjaga dan melestarikan adat Minangkabau juga menjadi forum yang menyelesaikan berbagai urusan yang berhubungan dengan kebijakan adat. Seperti sengketa tanah dll.
Sampai di sini apakah terlihat kalau Minangkabau didominasi oleh matriarki?

Perempuan mendapatkan ruang memimpin dengan adanya Bundo Kandung, selain menjadi ibu juga punya peran memimpin kaum. Meski pada praktiknya segala keputusan penting tetap dipegang oleh kalangan laki-laki dari Niniak Mamak.
——–
Setelah menjelaskan ini panjang lebar, tentu saya merasa kalau adanya politik identitas pada statement proyek foto Buru Babi dirasa kurang tepat. Karena budaya Minangkabau telah disusun sedemikian rupa membagi peran serta kedudukan laki-laki dan perempuan.
Hingga pada akhirnya saya melihat bahwa matrilineal Minangkabau berdiri sebagai simbol, bahwa perempuan tidak benar-benar memiliki posisi tertinggi, terlebih pada praktiknya idelogi patriarki mendominasi dan tumbuh subur. Walau antara laki-laki dan perempuan memiliki kekuasaan atas kapitalnya masing-masing.
Ada kontradiktif dengan narasi prestius yang memicu kritik ini bermunculan, di satu sisi saya mengapresiasi karena Yoppy berjiwa besar untuk mengakui kekhilafannya.
Mungkin karena proyek ini masih ongoing jadi masih ada data penting berceceran, dan sayangnya statement dan karya sudah dilempar ke publik dan cukup sukses mencuri perhatian media bergengsi.
Apakah media yang mempublikasikan tidak menguji validnya isu dari para pengkarya? 
Saya masih teringat beberapa tahun lalu Yoppy menjadi mentor pada suatu event portfolio review di Pasar Cihapit, Bandung
Ketika ditanya bagaimana langkah yang baik untuk membuat proyek foto dengan mantap Ia menjawab ‘pentingnya riset’.
Namun, ma’af jika statement pada Buru Babi ini lebih terlihat tanpa memahami dengan baik akar budaya yang ingin dibahas. Terutama pada bagian sistem kekerabatan dan kepemimpinan di Minangkabau.
Dan pada klarifikasi Yoppy juga mengakui bakal ada pengembangan lebih lanjut.
Konklusi
  • Mengkritisi karya seperti ini menurut saya baik, lebih memperkaya wacana karena selama ini kebanyakan hanya bungkam atau menjadikan bahasan terselubung pada forum diskusi kecil yang tidak berngaung ke khalayak
  • Jika Rama tidak menulis kritik tentu kebanyakan orang hanya akan mengamini atau bahkan mengagumi belaka statement dari proyek Buru Babi
  • Tindakan Yoppy dalam menyikapi juga cukup baik, menjabarkan sudut pandangnya sehingga kita sebagai penonton juga bisa mendapatkan banyak pelajaran.

Tomi memiliki sedikit kemampuan fotografi dan desain grafis, serta videography.Cukup suka menonton film dan travelling.Saat ini sedang menjual es warna warni. Dan kembali belajar menulis di Quora.

Leave a Reply