Perjalanan Awal Berkenalan Dengan Komunitas Fotografi

Dari Tegalega Ceritaku Bermula

Pertengahan tahun 2015 perjalanan hidup membawaku kembali ke Bandung, setelah 7 bulan lamanya sangat jobless di Jakarta. Pada titik yang pasrah akhirnya di suatu siang tidak terduga panggilan pekerjaan menjadi fotografer untuk brand produsen gamis memberikan harapan baru.

Tuhan sepertinya belum menjauhkan langkahku dari kota yang pernah diidamkan semenjak masa SMA. Menetap kali ini menjadi sedikit berbeda, bukan karena suasana semakin macet atau upaya Ridwan Kamil dengan begitu cepat memperindah berbagai sarana ruang publik.

Bandung tetap saja sejuk, ramah, dan membuatku kembali teringat pada 6 tahun sebelumnya. Tepatnya menjelang bulan Ramadhan ketika mata menyapu jalanan. Menghitung jumlah gedung yang tidak terlalu banyak, atau terkejut dengan dinginnya air di Tubagus Ismail. “Wow dingin juga ya, tidak jauh berbeda dengan Lintau”. Begitu lah impresi pertama kali ketika tubuh ini dicumbu air bersih kawasan Dago.

Kemudian kawanku mengajak berkunjung ke Dago Plaza, katanya menikmati paha sembari mencuci mata, ya memang di sini lah mudah ditemukan awewe dengan bawahan minim. Oke ini adalah bagian tidak terpuji dan mungkin terdengar sedikit hina bagi kamu pembaca wanita. Tempat tongkrongan paling populer ini begitu ramai oleh anak muda yang menurutku terlihat sangat fashionable, dan kala itu café-café begitu langka. Jika ada harganya tidak bersahabat.

Kembali pada alur hidup di tahun 2015, Dago Plaza atau dikenal dengan DAPLA sudah menghilang diganti dengan kumpulan toko-toko mainan. Dan pusat keramaian tidak lagi hanya di sepanjang jalan Dago.

Kota ini berkembang begitu pusat seiring dengan semakin banyaknya ruang cantik menjanjikan kenyamanan untuk menghabiskan waktu di berbagai sudut tengah kota. Dan café menjadi tren baru dengan beragam konsep Instaragramable yang menjanjikan spot keren untuk berswata foto. Hingga banyak pebisnis membaca peluang akhirnya berlomba-lomba mengadu konsep dengan harap investasi modal bisa memberikan keuntungan sebaik mungkin.

Malam di DAPLA itu kami habiskan untuk nongkrong di beranda sebelah Circle K (CK) dengan ditemani sebotol besar bir. Suatu saat ini akan menjadi tindakan bodoh yang aku sesali untuk menghabiskan uang saku kiriman orang tua dari kampung halaman.

Aku sampai menjadi cukup heran dengan perubahan ini, ditambah lagi agak kesulitan untuk menghubungi teman lama dari masa kuliah atau rekan-rekan dari satu daerah asal. Semua orang sudah larut dengan kesibukan masing-masing.

Tanpa teman membuatku terseret pada kebosanan rutinitas, pada suatu malam yang dingin tanpa hujan entah petunjuk dari mana terbersit lah ide untuk bergabung bersama komunitas fotografi. Padahal setelah beberapa tahun sebelumnya bergelut pada bidang ini aku tidak terlalu tertarik lingkaran sosial sejenis.

Yang mencuri perhatian hampir 2 tahun terakhir adalah ranah Street Photography. Ketika masih menjadi pewarta foto amatir di Pekanbaru keseharianku cukup banyak menghabiskan waktu di Facebook untuk menikmati beragam karya dari grup Indonesia On The Street (IOS).
Karya-karya yang bagiku terkesan begitu baru, sedikit berbeda dengan Human Interest. Gestur unik, ekspresi hingga pencahayaan bermain dengan gelap terang apik. Aku hanya bisa berdecak kagum dan menyimpan banyak pertanyaan apa sebenernya tujuan dari foto-foto ini?

Di antara kesepian dan berasa kehilangan teman, aku memberanikan diri mencari komunitas Street Photography yang berada di kota Bandung dengan pencarian di kolom Facebook. “Bandung Street Photography”. Tidak banyak muncul pilihan namun yang paling menggoda suatu nama tertulis Bandoeng Photostreet Shooter (BPS).

Ternyata tidak beberapa lama hanya berselang setengah hari pengajuanku untuk bergabung bersama grup ini langsung dikonfirmasi. Rasa penasaran seiring semangat tinggi menyita waktu mencoba memantau aktivitas, ada beberapa nama yang terlihat begitu aktif. Dugaanku Ia adalah admin penguasa forum.

Oke, tanpa sungkan kuberanikan diri untuk mengirim pesan padanya, isinya tidak lebih sebagai basa basi perkenalan diri dan minta ikut serta pada kegiatan pertemuan offline. Rimba menyambut dengan baik karena kebetulan pada hari Minggu di pekan itu ada acara hunting yang diselenggarakan.

Kabar baik bagiku untuk memulai perjalanan baru dan berharap punya lingkaran sosial baru yang bisa memperluas wawasan dan menambah produktifitas.

Sembari menunggu hari H aku tetap bergelut dengan rutinitas sebagai fotografer. Selepas jam kerja masih menetap di kantor yang sekaligus menjadi bagian gudang. Usaha busana wanita muslim masih seperti bisnis rumahan yang sedang berkembang pesat. Dipimpin oleh seorang bos dermawan berasal dari Makassar.

Dari percakapan sesama rekan kerja, bos yang kupanggil bang Arya dan ibu Ridha sebelum merintis bisnis ini menghibahkan semua harta kekayaan dan mulai kembali merintis dari nol. Alasannya harta yang dimiliki belum tentu sepenuhnya halal. Ketika mereka mendapat hidayah untuk sepenuhnya hijrah maka jalan yang tidak biasa dan terkesan ‘gila’ ini mereka lakukan.

Alhasil tidak beberapa tahun merintis bisnisnya sudah berkembang begitu pesat. Perlakuan. kepada karyawan juga sangat baik, malah kami merasa diperlakukan sebagai saudara. Pernah pada suatu malam aku terlarut dalam lamunan yang terkesan picik.

“Umurku sudah 25 tahun, tanpa gelar akademis universitas, tanpa tabungan apa lagi harta berlimpah. Masih takut untuk gagal atau bahkan tidak mendapatkan rejeki. Sedangkan bosku menghibahkan semua hartanya berlandaskan kembali kepada Allah. Sungguh aku menjadi malu karena masih saja menjunjung tinggi duniawi.” Mungkin aku harus belajar kembali bagaimana cara bersyukur.

“Ah, sudah lah yang terpenting saat ini jalani saja segala sesuatu dengan apa yang bisa kulakukan.” Kemudian keheningan malam akhirnya berhasil membawaku terlelap panjang.

Hari H di Kalapa


Bangun di pagi Minggu kali ini bagiku sedikit berbeda, bukan karena tidak biasa. Namun ada semangat yang mendebarkan karena punya ekspektasi tinggi untuk mendapatkan tema atau apa pun itu pengalaman baru.

Mengikuti komunitas adalah adalah suatu hal yang belum pernah aku alami. Karena pada masa-masa sebelumnya belajar cenderung sendiri dan sedikit materi dari kampus, sisanya membaca dari internet dan praktik. Bekerja beberapa bulan sebagai pewarta foto di Pekanbaru juga memberikan kesan tersendiri bagiku dalam berkarya.

Berdasarkan informasi dari Rimba, titik kumpul peserta berada di pintu masuk ITC Kalapa. Aku berusaha sebisa mungkin datang lebih awal. Namun karena menggunakan angkot selalu ada saja pemberhentian tidak terduga dari Cihampelas hingga Kalapa.

Setibanya di tempat pertemuan terlihat sudah berkumpul beberapa orang yang memegang kamera, mengalungkannya dan dengan berbagi tawa. Menatap dari kejauhan aku berasumsi ada keakraban yang terjalin begitu ramah.

Rimba berpostur jauh lebih berisi dari padaku, berbaju kaus hitam dengan celana ¾ yang longgar. Menyambut dengan ramah seakan kita telah mengenal cukup lama. Dan kemudian Ia berlalu terlihat sibuk menunggu para peserta lainnya. Katanya ada fotografer senior dari Jakarta yang bakal bergabung. Meski canggung aku berkenalan dengan Algi, Arifan, kang Tirta dan beberapa nama lainnya. Beberapa tahun ke depan nama-nama ini akan mencuri perhatian banyak orang di kalangan pegiat fotografi karena karyanya masing-masing.

Sekitar 10 hingga 15 menit berlalu, muncul seorang om-om dengan gaya terlihat cuek. Bercelana kargo hitam, kaca mata lengkap dengan topi, kumis dan jenggotnya tersembul bulu-bulu putih yang muncul sedikit tidak beraturan. Di tangannya memegang erat kamera mungil perpaduan desain klasik dari era analog berpadu dengan tren digital.

Kita tidak sempat berkenalan karena Ia sepertinya enggan untuk memulai komunikasi dengan orang baru. Hingga tanpa sempat berjabat tangan bahkan bertegur sapa. Dari komunikasi yang terlihat om ini sudah cukup akrab dengan Algi, Arifan dan peserta lain. Terbukti mereka saling menertawakan suatu jargon yang tidak aku mengerti. Kelak malah kita menjadi begitu dekat, om Chris Tuarissa ini nanti mendirikan Maklum Foto bersamaku.

Beberapa orang masih asyik bercerita dengan menikmati kopi yang dinikmati dengan gelas plastik, entah kenapa mereka terlihat saling akrab. “Mungkin mereka sudah saling bertemu” pikirku. Masih dalam kecanggungan dan belum begitu terlibat percakapan, ya hanya sebatas basa-basi saja kontribusiku pada keramahan pagi ini.

Aku jadi merasa cemas apakah nanti semua akan berjalan baik-baik saja, karena tidak banyak orang mengetahui bahwa aku cukup kesulitan untuk mempercayai kenalan baru. Ada kekhawatiran berlimpah hubungan sosial ini tidak akan berlangsung dengan baik, suara-suara dari pikiran buruk seringkali menyesaki pikiran. Hm, semoga kali ini tidak terjadi lagi Tuhan.

“Mang hayuk jalan” sapaan ini membuatku cukup tersentak dari kebiasaan memerhatikan segala tingkah orang-orang yang baru ditemui. Sejujurnya dipanggil Mang dengan umur yang kala itu masih 25 tahun membuatku tidak nyaman karena berasa jauh lebih tua.

Dengan waktu cukup singkat rombongan ini berpencar menuju Tegalega, aku hanya mencoba memerhatikan tingkah laku mereka yang sepertinya terlihat biasa saja memotret orang sepanjang jalan. Padahal rute yang kami lalui adalah tempat favorit supir angkot untuk ngetem menunggu penumpang.

Namun orang-orang ini entah bagaimana caranya melakukan interaksi hingga bisa mengambil foto dengan jarak begitu dekat. Dari perhitunganku antara lensa dan wajah orang yang difoto kurang dari 30 cm. Kucoba menepis rasa tidak nyaman dari anggapan bahwa sikap begitu tergolong tidak sopan. Aku masih berjalan pelan sembari memerhatikan dan berpikir dalam kebingungan, “aku harus memotret apa ya?”.

Masih dengan canggung dan langkah serta pikiran tak menentu aku hanya memerhatikan tingkah para fotografer yang baru dikenal ini, ada 2 orang berjalan gesit dengan memegang smartphone untuk memotret. Ada juga beberapa orang mengeroyok mamang-mamang pengemudi becak, ya mereka masih banyak ditemukan di Bandung. Meski lebih sering terlihat tertidur dalam kendaraannya, siapa mesti disalahkan atas sepinya penumpang ini?

Berjalan kaki sambil memegang dengan tujuan hunting (memburu) foto sepertinya begitu dijiwai oleh para peserta, “Hayuk mang, moto atuh”. Algi yang berkaca mata dengan smartphone di tangan menyemangati. Ia bersama dua kawannya berjalan saling mendahului berebut ‘objek’ yang menarik untuk diabadikan.

Sedangkan aku? Masih saja menikmati memerhatikan barisan gedung cukup tua nan berbaris sepanjang jalan, entah kenapa dan mulai dari kapan mataku selalu begitu khidmat jika terlalu dalam sajian pemandangan seperti ini.

Kamera ditanganku Fujifilm X-A1 dengan lensa manual Fujinon, lensa lawas untuk body kamera analog Fujica. Cukup susah memfokuskan jika belum terbiasa, ya buat apa fokus-fokus jika aku saja masih belum tahu ingin memotret apa. Meski pagi itu begitu cerah di bulan Agustus. Cahaya kehangatan yang begitu lembut memberikan keceriaan tersendiri untuk mengenal teman baru dan ilmu baru. Harapku.

Semakin mendekat ke Tegalega, sorot mata orang-orang lebih sinis pada daerah sebelumnya yang berlalu. “Ini moto-moto tujuannya apa?” tanya seorang pedang kaki lima yang menjual buah di trotoar depan gerbang. “Untuk hobi aja buk” jawabku. “Jangan foto kami yang di depan-depan ini ya, apa lagi sebar ke internet”.

Ternyata pada pedagang ini menjadi khawatir karena tempat mereka berjualan adalah zona ilegal berdasarkan aturan Pemkot Bandung. Ini tantangan tersendiri menghadapi orang-orang tidak selalu ramah dengan kamera. Meski kadang sebagian orang masih saja lebih mementingkan ego dengan alibi berkarya.

Alun-alun Tegalega begitu sesak seperti pasar rakyat pada Minggu pagi di Gasibu, beragam wajah dan bau yang berkolaborasi dengan panas dan hiruk pikuk menjelang tengah hari. Kami berkumpul pada satu titik akhir yang ditentukan para penyelenggara. Ternyata tidak semua peserta ikut, sebagian pulang karena beragam alasan.

Dan ada juga peserta yang belakangan muncul, salah satunya adalah pria brewokan dan wanita sipit berambut panjang berkalung kamera tua. Mereka juga tidak kalah dibanding peserta lainnya. Mang Agung dan Fresil memperkenalkan diri. Nantinya mereka akan cukup sering menghabiskan malam-malam denganku bersama kawan lainnya untuk berdiskusi akan banyak hal dan saling menyemangati dalam berkarya.

Hari itu tidak banyak peserta perempuan, aku sesekali berbincang dengan Mahda Djohar. Jauh sebelum pertemuan ini hanya melihat namanya berseliweran di linimasa Facebook. Terkadang ada hal-hal tidak pernah terbayangkan bisa terjadi saja tanpa diduga.

Rimba masih saja berjalan ke sana kemari menyalami berbagai orang, wah seperti ini ya kalau menjadi ketua komunitas, pikirku. Katanya ada seorang senior dari Jakarta yang bakal ikut hadir. Namanya Sam Bara, seperti tidak asing bagiku karena karyanya memang selalu mencuri perhatian dari grup iOS. “kemarin berat badannya turun drastis, karena 14 hari gak nyetrit” tutur Rimba kembali dengan tetap bersemangat.

Tidak berapa lama dari kejauhan ada seorang pria paruh baya dengan setelan serba putih hingga topinya. Ia beserta rombongan, ketika menemui kami menyapa dengan ramah tanpa sungkan bersalaman dengan banyak orang. Awalnya aku menyangka mereka sudah sering bertemu dan ternyata di kemudian hari aku baru tahu momen itu adalah pertemuan pertama.

Menjelang tengah hari tentu rasa lapar menyerang dengan alami, berjalan sekian kilo dengan matahari cerah sungguh menguras energi. Aku mencoba menghitung cepat kira-kira hampir 30 orang diajak berpindah ke salah satu rumah makan yang cukup terkenal di daerah Kalapa. Sungguh kembali berjuang untuk mengisi perut.

Suasana hangat syarat keakraban terlihat begitu nyata tanpa terbatas oleh usia, mahalnya peralatan fotografi mereka atau status apapun yang bisa memisahkan dan memberikan jarak untuk membuat seseorang enggan duduk bersama hingga hanya berani menatap dalam kejauhan. Ini pengalaman tidak pernah terbayangkan bagiku yang masih saja suka terbelenggu oleh prasangka tidak penerimaan dari orang baru. Menjelang tersajinya segala rupa menu di antara serangan rasa lapar karena lelahnya perjalanan, percakapan mendalam mengenai fotografi berlangsung begitu seru dan penuh minat.

“Yang terpenting saat ini kalian motret aja dulu apa yang disuka, jangan takut-takut yang penting jangan seenaknya. Hanya bermodal senyuman saja orang-orang di jalanan sudah senang.” Dengan semangat berapi-api om Sam Bara memberi wejangan, yang disimak penuh khidmat oleh barisan wajah lelah.

Sebelum pertemuan ini usai aku menerima undangan untuk berkumpul pada malam harinya oleh mang Agung. Pria brewokan yang datang belakangan di Tegalega. Dan kelak nantinya kami bersama beberapa selusin rekan lainnya tergabung dalam Fotoemperan.

Tulisan ini aku tulis untuk menjadi catatan pengingat akan perjalanan hangat di ranah fotografi, persabahatan yang tidak mudah pudar hingga bertransformasi hangat bagai sanak saudara. Mohon dukungannya semoga hal ini bisa menjadi tindakan konsisten untuk ke depannya.

Tomi memiliki sedikit kemampuan fotografi dan desain grafis, serta videography.Cukup suka menonton film dan travelling.Saat ini sedang menjual es warna warni. Dan kembali belajar menulis di Quora.