Review Film 47 Meters Down: Uncaged (2019), Hiu Buta Menebar Teror

Film review 47 meter down uncaged, Udasukaria

Photo: IMDb

Kapan terakhir kali kamu merasakan begitu ketakutan dan parno berenang di laut atau danau bahkan sungai setelah menonton film?

Pertama kali saya mengalami hal itu ketika menonton Jaws (1975) ketika masih di bangku SD, dan terakhir ketakutan setelah menyimak Lake Placid (1999).

Banyak juga sutradara yang mencoba memberikan ketakutan serupa seperti Deep Blue Sea (1999), Piranha (1978), Piranha 3D (2010).

Dan masih banyak lagi.

Saya mencatat beberapa pola yang disajikan, diantaranya:

  • Objek wisata, apakah umum atau alam liar. Dengan pengunjung yang tidak patuh terhadap larangan pengelola setempat.
  • Akibat ulah manusia kemudian memicu muncul atau bangkitnya makhluk hidup yang sudah tenang dengan ekosistemnya hingga akhirnya menjadi ancaman.
  • Predator utama adalah hewan langka, objek penelitian atau sisa pra sejarah.

Film 47 Meters Down: Uncaged (2019) yang bakal kita bahas ini juga tak akan luput dari beragam pola yang telah kamu saksikan.

Oke, mari menonton

SPOILER ALERT!!!

Scene cukup mendebarkan disuguhkan dengan slow motion sebuah tubuh terjatuh dalam air.

First impression “wow kok langsung adegan penyantapan aja nih?”

Ternyata tidak demikian, Mia (Shophie Nelisse) menjadi korban dari sekumpulan geng remaja perempuan yang dipimpin Chaterine (Brec Bassinger).

Tidak diperlihatkan dengan jelas bagaimana kronologis tubuh Mia yang lengkap dengan seragam sekolah masuk ke dalam kolam renang.

Dengan mudah penonton bakal menduga bahwa Chaterine dan geng adalah pelaku utama, ditambah lagi dengan tertawa jahat begitu merendahkan.

Saya menjadi heran karena insiden ini persis terjadi di depan sekolah mereka, tapi tidak ada satu orang pun yang peduli.

“Oh mungkin sekolah di luar negri memang biasa seperti ini”

Bergumam sendirian dalam hati sembari menonton.

Meski tidak ada yang mau ikut campur, ada 3 gadis remaja berdiam diri sambil memerhatikan.

Hanya ada satu orang terlihat cukup kesal yaitu Sasha (Corinne Foxx), ditemani dua orang temannya Alexa (Brianne Tju) dan Nicole (Sistine Rose Stallone).

Mia digambarkan sebagai karakter yang sepertinya cukup sulit bergaul dan canggung. Setelah dia keluar dari kolam renang, meski kesal namun tidak ingin membalas ulah Chaterine.

Perlahan mulai lah diketahui kalau Sasha dan Mia adalah saudara tiri, hal ini terungkap setelah Jennifer (Nia Long) menjemput mereka ke sekolah.

Jennifer menanyai Sasha atas apa yang terjadi terhadap Mia, meski awalnya Sasha enggan menjawab. Disuguhkan secara implisit kalau hubungan saudara tiri ini tidak terlalu harmonis.

Perjalanan menuju rumah ini menyuguhkan landscape pantai nan indah di Yucatan, Mexico. Grant (John Corbett) adalah ayah Mia yang punya usaha penyedia alat perlengkapan selam.

Grant memiliki dua orang asisten Ben (Davi Santos) dan Carl (Khylin Rhambo). Mereka sedang sibuk mempersiapkan perlengkapan penerangan bawah air di kota kuno suku Maya.

Kota yang sudah berada di dalam lautan. Persiapan ini untuk menyambut arkeolog yang akan segera datang untuk melakukan penelitian.

Ketika keluarga ini sedang menikmati sajian di meja makan Grant menunjukkan sesuatu yang menarik kepada Mia, sebuah gigi berbentuk segitiga. Ya mudah menduga kalau ini adalah gigi dari hiu.

Mia begitu terpesona mendapatkan pemberian gigi tersebut, dengan gamblang Grant menjabarkan bahwa menemukannya di bekas reruntuhan kota suku Maya.

Tempat dia bersama tim sedang memasang penerangan.

Ini seperti menjadi clue bahwa teror akan berlangsung di suatu tempat tidak jauh dari mereka.

Karena kesibukannya Grant meminta Mia dan Sasha mengikuti suatu tur wisata dengan kapal untuk menyaksikan hiu putih.

Dengan alasan ini bisa mempererat hubungan antara mereka berdua. Meski berberat hati karena sudah punya janji bersama geng-nya Sasha menyanggupi.

Pada hari H menjelang tur dilaksanakan, Sasha dan Mia diantarkan oleh Ben dan Carl. Mereka langsung bertemu dengan Chaterine dan kawan-kawan tentunya.

Yap, tipikal teman masa sekolah yang begitu ingin terlihat populer dan keren. Cantik sudah pasti.

Tanpa diduga Alexa dan Nicole datang membawa mobil, mengajak Sasha untuk pergi suatu tempat.

Sasha tidak tega meninggalkan Mia. Akhirnya mereka berempat berlalu meninggalkan Chaterine dan geng begitu saja.

Scene seperti ini memang banyak kita temui, terutama yang mengangkat tema remaja. Masih dalam pencarian jati diri dan menikmati kebebasan versi mereka.

Tentu dalam perjalanan Mia yang awalnya canggung perlahan bisa ikut tersenyum dan tertawa dengan saudara tiri serta 2 teman sekolahnya.

Ternyata sangat mudah untuk mencairkan suasana jika telah bepergian bersama.

4 gadis remaja ini bergerak jauh pemukiman menuju suatu daerah terpencil, sepintas lebih mirip dengan kebun kelapa di belakang rumah saya.

Tempat yang mereka tuju sebuah telaga kecil dengan air yang begitu jernih, dan hebatnya lagi sudah ada tempat untuk beristirahat di dalamnya.

Telaga ini menjadi keindahan tersembunyi, saya bisa bayangkan jika spot ditemukan oleh anak kekininian yang mengagungkan kata explore ala igers, maka otomatis banyak orang datang dan sampah bekas konsumsi manusia akan merusak keindahan.

Di tempat peristirahatan pada bagian telaga telah tersedia peralatan menyelam yang lengkap, terlihat cukup mahal.

Saya jadi heran kenapa peralatan ini dibiarkan begitu saja alam terbuka meski cukup terpencil, seperti sudah ada jaminan tidak akan hilang.

Alexa mengisahkan kepada temannya bahwa jika menyelam dari telaga ini maka bisa sampai ke kota kuno peninggalan suku Maya. Ia pernah sekali mengunjungi bersama Ben.

Jangan ditanya apa yang terjadi setelah itu, ketertarikan gadis remaja tanpa pengawasan orang dewasa membuat Sasha beserta Nicole mendesak Alexa memandu mereka, meski Mia awalnya meragu.

Dan petaka itu segera dimulai.

Reruntuhan kuno tentu selalu menakjubkan, ruangan tersembunyi di bawah air dengan beragam patung terpajang bahkan altar untuk pengorbanan manusia masih terlihat utuh

Penonton disuguhkan dengan munculnya satu ikan kecil yang buta kemungkinan besar berevolusi dengan minimnya cahaya dalam reruntuhan.

Ikan kecil ini tiba-tiba mengejutkan ketika membuka mulut, taring ganas yag diperlihatkan membuat kaget keempat remaja ini bahkan kita yang menonton.

Dan muncul di belakang Mia sosok hiu berwarna putih dengan tubuh penuh bekas luka.

Mungkin hiu ini buta hingga mengabaikan tubuh gadis cantik yang dilewatinya.

Jika dia buta apakah indra pendengarannya tidak bisa mengetahui kejadian gaduh yang baru saja terjadi?

Belum sempat merangkai pertanyaan lain hiu putih yang buta ini (si buta dari gua Maya) mulai menuai teror.

Sudah biasa bukan setelah mengenalkan diri kepada penonton kemudian mulai memburu?

Hal ini dimulai setelah keterkejutan yang menyebabkan runtuhnya beberapa bagian reruntuhan, para gadis terpisah karena jarak pandang menjadi berkurang akibat debu bangunan turun cukup banyak.

Karena begitu gaduh kemungkinan Ben datang menyelidiki dan dia sempat bertemu dengan Alexa, membawa harapan untuk bisa keluar dari reruntuhan kota.

Kota ini punya banyak lorong yang cukup rumit sepertinya, Ben membawa gulungan tali sebagai panduan. Belum sempat berbincang lama tubuhnya langsung disantap oleh hiu.

Setelah Ben menjadi santapan, perlahan ke-4 gadis ini mulai berkumpul dengan kapasitas oksigen yang semakin menipis.

Mereka dikejar hiu dan berhasil meloloskan diri ke lorong sempit yang lebih mirip saluran udara. Dengan tubuh cukup besar tidak bisa hiu ikut mengejar lebih jauh.

Sayangnya scene seperti ini terjadi hingga 2 kali.

Dengan harapan bisa menemukan Grant akan membawa mereka keluar dengan selamat maka Mia diutus melakukan pencarian.

Selanjutnya disuguhkan dengan tampilan seseorang yang sedang mengelas ditemani oleh suara musik memenuhi ruangan. Dugaan saya ini adalah Carl.

Hm, apa suara musik ini bisa begitu jelas ya terdengar dalam air?

Apakah suara keras dari pemutar musik tidak akan memberikan getaran hingga memicu robohnya reruntuhan kuno?

Kenapa tidak Carl yang pertama kali diincar hiu padahal dia lebih mudah terdeteksi?

Kita tidak akan dibiarkan bertanya lebih jauh karena sudah jelas pemangsa langsung menyantap Carl.

Dan secara ajaib Mia bertemu dengan Grant, dengan kondisi hiu putih sedang berpatroli di belakang mereka berdua.

Alexa dengan Nicole muncul mengalihkan perhatian dengan cara membuat kegaduhan, karena hiu ini tertarik dengan suara.

Dengan panduan dari Grant mereka berhasil muncul ke permukaan, pintu keluar yang menjadi harapan utama.

Tidak bisa langsung keluar ke daratan karena situasi bagaikan terjebak dalam sumur besar, hanya ada satu tali bisa dipanjat sebagai akses utama untuk keluar.

Tentu harus bergantian karena tidak memiliki daya tahan lebih dari satu orang.

Sejenak kita diberikan kesempatan menghela nafas, namun hiu putih yang muncul dari kedalaman malah jadi dua.

Giliran pertama menaiki tali diberikan kepada Alexa, namun karena panik Nicole bergegas ikutan naik.

Sepertinya menjadi familiar pada film seperti ini disediakan 1 atau beberapa karakter yang sulit diatur dan ketika dalam bahaya hanya memikirkan diri sendiri.

Tiba-tiba saya menjadi kesal kepada Nicole,

“Mati lu”

Do’a jahat dari pada penonton sepertinya terkabul, Nicole terjatuh kembali dalam telaga dan hap langsung menjadi santapan.

Tali yang disediakan ikutan terjatuh ke dalam telaga, harapan pintu keluar menjadi semakin minim.

Dengan tidak sengaja Sasha mengaktifksn alarm penanda keberadaan penyelam, berhasil sesaat untuk mengusir para hiu.

Kemungkinan karena indera pendengaran terlalu peka membuat mereka jadi terusik.

Namun, ada hal yang membuat saya terganggu sebelum insiden jatuhnya Nicole.

Grant, Sasha serta Mia masih berada dalam air meski mengapung tentunya membuat gerakan yang menarik perhatian bukan?

Kenapa mereka tidak dimangsa sedangkan 2 hiu berenang memutari tepat di bawah kaki mereka?

Oke mari abaikan dan lanjut menonton.

Grant mengusulkan tidak ada lagi jalan keluar kecuali kembali menyelam ke reruntuhan dan mencari akses ke laut lepas.

Sebelum Grant selesai menjelaskan tiba-tiba hiu menyambar hingga air menjadi memerah.

Scene ini membuat saya begitu emosi, karena Mia baru saja bertemu dengan ayahnya. Dan menjadi korban keganasan hiu putih.

Kesedihan tidak berlangsung lama, hanya tinggal Mia, Sasha dan Alexa untuk menyelamatkan diri.

Mereka harus kembali ke lokasi awal mula teror, dikejar-kejar dan kabur dalam air. Ya begitu lah kisah selanjutnya.

Hingga akhirnya bisa keluar dari gua bekas peninggalan suku Maya tersebut. Masih belum bisa ke permukaan dengan oksigen yang semakin menipis, mereka disambut oleh arus bawah laut.

Sasha menjadi terseret meskipun Mia telah berusaha keras memberikan bantuan dengan mengulurkan. Namun, arus air begitu kuat.

Alexa dan Mia perlahan merayap pada dinding gua untuk mencari jalan lain, hingga menemukan suatu lubang. Namun, tanpa disangka hiu pemangsa menyergap.

Tanpa terhindarkan Alexa menjadi korban selanjutnya, Mia yang tinggal sendirian juga ikut terbawa arus.

Lah, mati juga donk?

Dengan ajaib ada satu tangan menariknya, dan ternyata Sasha yang memberikan bantuan.

Oke, mari kita singkirkan dulu seutas logika yang bisa mengajukan beragam pertanyaan.

Pertemuan kembali kedua saudara tiri ini bukan berarti mereka telah selamat. Masih butuh perjuangan untuk mencapai permukaan laut.

Hiu pemangsa tetap saja memburu tanpa jenuh, di sini emosi tetap saja dipermainkan hingga saya juga merasa seperti terbawa dalam aksi pengejaran, sebagai calon santapan tentunya.

Dan akhirnya kedua gadis ini mencapai permukaan laut.

Yeaaaay!!!

Menghela nafas panjang…

Namun ternyata perjuangan belum usai, secara kebetulan ada kumpulan hiu putih yang sedang diberi umpan. Daging serta darah dibuang ke laut.

Ini dilakukan sebagai umpan yang mempertunjukkan hiu putih kepada para peserta tur yang awalnya akan diikuti oleh Mia dan Sasha.

Kisah selanjutnya?

Tentu mereka berdua berjuang menaiki kapal peserta tur.

Apakah diburu oleh hiu?

Sudah pasti.

Ada kejanggalan pada scene akhir ini. Tubuh Mia sempat digigit oleh hiu hingga Ia bisa menyelamatkan diri. Hanya ada bekas luka mengelilingi tubuhnya ketika berhasil menaiki kapal.

Dan kemudian film berakhir.

Konklusi

  • Cukup menegangkan karena bermain dengan tempo naik turun.
  • Pengenalan serta hubungan tokoh utama berlangsung singkat.
  • Formulanya dengan plot naik turun bermain emosi bisa menjadi menarik atau malah membosankan.
  • Bagaimana cara hiu ini bertahan dengan minimnya sumber makanan dalam gua?
  • Rating 5.1/10 di IMDb memang cukup pantas untuk film ini.

Tomi memiliki sedikit kemampuan fotografi dan desain grafis, serta videography.Cukup suka menonton film dan travelling.Saat ini sedang menjual es warna warni. Dan kembali belajar menulis di Quora.

Leave a Reply