Review Film Angel Has Fallen (2019), Plot yang Sama dengan Pendahulu


Film ke-3 yang tidak terhubung pada 2 film lainnya

Review Film Angel Has Fallen (2019), Plot yang Sama dengan Pendahulu
Photo: IMDb

Spoiler alert!!!
Angel Has Fallen (2019) adalah film kelanjutan dari 2 seri ‘Has Fallen’ lainnya, Olympus Has Fallen (2013) dan London Has Fallen (2016). 

Sayangnya saya hanya menonton Olympus Has Fallen saja. Jadi review kali ini cuma mengacu satu film terdahulu.
Oke mari penonton, kita masih diperlihatkan antara hubungan kepercayaan yang begitu begitu besar antara agen secret service bersama presidennya.
Agen Mike Banning (Gerard Butler) masih menjadi sorotan utama, terlihat dari scene pembuka terjadi pertempuran jarak dekat yang sering juga kita temukan pada games battle royale seperti PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG).
Agen Mike Banning diperlihatkan begitu tangguh hanya menggunakan handgun mengalahkan banyak lawan yang menggunakan senjata berjenis assault rifle. 
Meski akhirnya dengan mudah dikalahkan pada akhir stage oleh seorang musuh lainnya yang ternyata juga mantan rekannya. Wade Jennings (Danny Huston) yang memberikan tembakan akhir tepat pada posisi jantung Mike.
Yap, ternyata ini adalah scene pada stage simulasi tempur. Di sini mulai muncul premis kalau Mike Banning akan diangkat menjadi komandan secret service. 
Scene kemudian berubah pada sesi ketika Mike melakukan pemeriksaan ke dokter, bagian belakang serta kepala mengalami cedera cukup parah.
Asumsi saya ini sisa dari pertempuran-pertempuran sebelumnya yang makin berasa setelah usia menua. Ia juga sudah sering mengalami migrain dan insomnia.
Pada film kali ini Mike beserta istrinya Leah (Piper Perabo) dikarunai seorang anak yang masih bayi, ini kebahagian tersendiri tentunya. Namun tuntutan kerja tetap membuat Ia bisa meninggalkan rumah beberapa hari.
Jika pada Olympus Has Fallen teror dilakukan oleh penyusup dari Korea Utara, kali ini serangan dilakukan oleh warga Amerika Serikat sendiri. Dengan skenario yang jauh lebih berbahaya yaitu pembunuhan President Trumbull (Morgan Freeman).
Aksi penyerangan terjadi ketika President Trumbull sedang memancing pada sebuah danau/sungai, ratusan unit drone canggih yang memiliki sensor gerak dan semua data agen secret service. Drone ini juga meledak.
Semua agen secret service dihabisi dengan sangat mudah tanpa perlawanan berarti, bahkan jika tanpa bantuan Mike Banning kemungkinan besar President Trumbull juga merenggut nyawa.
Yang menariknya Mike Banning sengaja untuk tidak diserang oleh drone.
Di insiden ini superioritas dan profesional agen secret service terlihat seperti bualan belaka, kecanggihan teknologi dan orang terpilih begitu mudah dikalahkan dengan serangan yang begitu singkat.
Apa tidak ada alat pendeteksi serangan?

Tentu di sini mulai muncul kejanggalan, seperti tidak belajar dan lebih berhati-hati semenjak penyerangan Gedung Putih ada Olympus Has Fallen.
Mari kita abaikan sejenak hal tersebut dan lanjut menonton.
Mike Banning dan President Trumbull selamat dari penyerangan dan dirawat pada rumah sakit yang sama dengan pengawalan yang lebih ketat.
Sayangnya karena hanya sendirian selamat fitnah mulai muncul terhadap Mike, dan secara rahasia ada dana cukup besar masuk ke rekening. Dugaan FBI ini adalah pembayaran atas rencana pembunuhun President Trumbull.
Begitu hebatnya FBI bisa melacak hal sedetail ini, tapi luput mendapatkan informasi sebelum terjadinya penyerangan presiden.
Sungguh hebat bukan?
Mike sukses difitnah tanpa bisa menghindar, karena DNA dari beberapa helai rambutnya sengaja ditaruh pada mobil tempat peluncuran drone pembunuh ditemukan.
Salient Global jasa keamanan swasta yang begitu terlatih di bawah arahan Wade Jennings adalah otak di balik insiden penyerangan.
Dan entah kenapa dengan sangat mudah saya sudah menduga kalau wakil presiden Martin Kirby (Tim Blake Nelson) merupakan tokoh antagonis.
Dugaan muncul ketika pada scene awal Ia meyanggah President Trumbull. Ternyata rencana pembunuhan juga didalangi oleh wakil presiden.
Pelarian yang dilakukan Mike dari rumah sakit dan kejar-kejaran di jalan raya berlangsung seru. Dari awal mulai film kita dijelali adegan yang menegangkan tanpa diberi jeda lebih lama untuk menghela nafas cukup panjang.
Pengejaran dipimpin oleh agen FBI Helen Thompson (Jada Pinkett-Smith), kejar-kejaran ini tidak terlalu baru aksi yang disuguhkan, mudah mengingatkan pada games Need for Speed: Most Wanted.

Meski sudah disertakan helikopter untuk terlibat dalam pengejaran, tentu agen Mike Banning jauh lebih tangguh dari semua pemburunya.

Seperti Rambo sang One Man Action, begitu tangguh

Nah, ada fakta menarik yang pada film ini. Kita diperkenalkan dengan ayah dari Mike yaitu Clay Banning (Nick Nolte), veteran perang yang mengasingkan diri dalam hutan.

Cukup jarang pada film Hollywood saya melihat tokoh utama yang sudah memiliki keluarga dipertemukan kembali bersama orang tuanya yang sudah begitu menua.
Clay Banning sudah sekian lama meninggalkan Mike, meski begitu sang anak tetap memantau keberadaan sang ayah.
Clay terlihat begitu sangat hati-hati meski sendirian dalam hutan, bahkan sengaja memasang kamera CCTV bahkan ruang bawah tanah sampai bahan peledak sebagai bekal perlindungan ketika ada bahaya tak terduga.
Hal ini terbukti ketika pasukan Salient Global melakukan serangan pada malam hari, dengan begitu mudah Clay meledakkan mereka tanpa diberikan perlawanan berarti bahkan ketika Mike turun tangan sekalipun.
Pasukan Salient Global terlihat sangat sepele karena hanya ditampilkan sebagai kumpulan orang yang berlarian dalam hutan pada malam hari. Mereka tidak diberikan kesempatan melakukan aksi keren layaknya pasukan militer elit profesional.
Sekali lagi ketangguhan solo player terlalu menonjol, bedanya kali ini Clay Banning yang menjadi begitu superior. Veteran tua yang tidak kalah berbahaya.
Dengan sisa mayat dari pasukan yang tumbang, duo Banning mengarahkan agen FBI Thompson untuk menyelidiki Salient Global. Proses berlangsung cepat dan mendalam.
Agen Thompson akhirnya memutuskan untuk langsung berkunjung ke markas Salient Global, bertanya dengan begitu menekan namun akhirnya dibunuh dengan mudah. Padahal dari awal Ia terlihat karakter yang memiliki peran begitu penting.
Agak aneh jika agen FBI datang ke markas penyedia jasa pengamanan swasta yang dicurigai dalam pembunuhan presiden negaranya tanpa persenjataan lengkap dan tim khusus. Terkesan terlalu menganggap remeh, hingga kehilangan nyawa dengan begitu mudah
Aksi Clay tidak berhenti sampai di situ, porsi heroik kembali muncul ketika Ia menyelamatkan Leah Banning dari penangkapan yang ingin dilakukan oleh 2 agen Salient Global. Jujur saya merasa cukup terharu pada scene ini.
Perjuangan Mike tentu belum usai, karena President Trumbull masih belum sadar dari koma untuk menyampaikan kebenaran yang terjadi pada insiden rencana pembunuhan terhadap dirinya.
Mike mati-matian untuk menuju rumah sakit sekaligus untuk membersihkan namanya, tindakan heroik ini juga berasalan untuk mengingatkan para secret service akan keselamatan Mr. President.
Kehebatannya kembali ditunjukkan dengan begitu mudah menyusup dan sengaja menyandera salah satu agen meminta dipertemukan dengan President Trumbull.
Di rumah sakit ini terlihat begitu banyak celah yang digunakan oleh Salient Global untuk memanfa’atkan kesempatan, sekali lagi menurut saya terlalu aneh jika sampai pada keamaan jaringan komputer tidak dijaga dengan baik oleh kumpulan orang terbaik dari FBI, CIA dan secret service.
Bahkan dengan celah tersebut Salient Global meledakkan rumah sakit dengan menaikkan tekanan pada semua tabung gas nitrogen pada ruang penyimpanan.
Dan sisa pasukan yang menjaga Mr. President tidak ada yang setangguh Mike Banning atau bahkan menjadi support-nya. Berbeda dengan tim Salient Global yang punya skill rata-rata dari pada secret service yang bertugas.
Dengan memperdaya Salient Global Mike berhasil menyembunyikan President Trumbull. Dan ending tentu sudah mudah ditebak pertarungan melawan Wade Jannings. Hm, tidak ada yang terlalu istimewa dan juga berakhir dengan cukup cepat.
Konklusi
  • Mike Banning terlalu menjadi karakter yang memiliki skill begitu jauh di atas rata-rata secret service lainnya.
  • Salient Global terlalu canggih dan sangat terorganisir dibandingkan FBI, CIA dan secret service.
  • Plot tidak jauh berubah dengan Olympus Has Fallen, hanya perbedaan penyebab konflik dan penyelesaian masalah yang hampir sama.

Tomi memiliki sedikit kemampuan fotografi dan desain grafis, serta videography.Cukup suka menonton film dan travelling.Saat ini sedang menjual es warna warni. Dan kembali belajar menulis di Quora.

Leave a Reply