Review Film Bebas (2019), Reuni Hangat yang Menghibur

Humor Cerdas Begitu Menghibur dari Racikan Riri Riza

Mungkin Anda atau saya sempat terheran dari judul film Bebas (2019) karya terbaru Riri Riza. Apakah film ini mengisahkan kisah pergaulan bebas? Atau bisa jadi ini menjadi bukti bahwa orang Indonesia perlahan mulai mudah curiga tanpa mengenali sesuatu lebih jauh.

Hari itu ketika membeli tiket saya hanya mendapat 4 pilihan judul film, selain Joker (2019) kemudian ada Sin (2019) yang entah kenapa tidak membuat saya begitu tertarik.

Dan pilihan paling akhir ada film Bebas (2019), tanpa berpikir panjang bangku dipesan untuk kembali menikmati karya Riri Riza dan kolaborasinya bersama Mira Lesmana.

Oke mari menonton dan selamat menikmati penceritaan kembali nan membosankan ini.

SPOILER ALERT!!!

Ketika memasuki bioskop seperti dugaan saya banyak bangku kosong, apakah karena menonton di hari Kami atau memang film Indonesia masih belum mendapatkan banyak penonton seperti film Hollywood yang selalu laku bahkan penuh sesak.

Ketika film Gundala (2019) baru rilis bangku kosong yang saya temui tidak sebanyak ini, berikut Review Film Gundala (2019), Pengenalan Yang Apik dari Tangan Joko Anwar.

Film Bebas (2019) dibuka dengan scene kehidupan rutinitas Vina (Marsha Timothy) yang sibuk mengurus keluarga. Menyiapkan segala keperluannya suaminya serta anaknya.

Yap, kehidupan Jakarta Sentris dengan finansial berkecukupan, suami yang punya jadwal kerja ke luar negeri. Tinggal di komplek perumahan cukup elit, rumah idaman bagi kebanyakan orang di Jakarta tentunya.

Vina memiliki ibu yang dirawat di Rumah Sakit, digambarkan sebagai seorang ibu dari orang Sunda yang cukup cerewet. Sarah Sechan tidak akan kesulitan untuk memainkan peran ini.

Karena kesibukan suaminya Vina selalu sendirian ke rumah sakit, dari kunjungan berkala ini lah secara tidak sengaja bertemu dengan kawan masa SMA, Kris (Susan Bachtiar) yang juga sedang dirawat pada suatu ruangan yang berdeda dari pada pasien kebanyakan.

Ini bukan lah ruangan seperti rumah sakit pada umumnya, lebih terlihat sebagai kamar khusus lengkap dengan sofa. Dan dengan mudah kita penonton menduga “oh ini pasti pasien yang kaya raya”.

Yang sedikit ganjil bagi saya, pertemuan Vina dan Kris terkesan tidak begitu alami sedikit dipaksakan.

Berlandaskan pada rasa penasaran Vina menerobos saja ke kamar pasien karena nama tersebut bertuliskan Krisdayanti pada pintu masuknya.

Apakah kamu akan melakukan tindakan yang sama jika pada situasi ini? Tanpa bertanya dulu pada bagian administrasi mengenai info pasien?

Oke, mari lanjutkan. Segala keganjilan kita singkirkan sejenak.

Pertemuan sahabat lama yang terpisah 23 tahun ini tidak berlangsung canggung, seperti rekan kerja yang menghabiskan sisa jatah istirahat makan sambil berbincang ringan acara asmara.

Mungkin jika telah dewasa obrolan canggung bersama kawan lama akan segera melebur untuk membahas masa lalu dan apa saja yang dilalui.

Dengan ruangan yang lebih mirip ruang tamu pribadi yang sangat cozy, terbersit lah permintaan Kris kepada Vina untuk meminta mencari dan mengumpulkan kembali para anggota geng Bebas.

Oke, ternyata Bebas adalah nama geng remaja dari masa lalu.

Vina terlihat cukup bersemangat dan beberapa potongan memori tentang masa SMA mulai ditampilkan, berawal dari foto-foto bersama geng Bebas.

Alur yang ditampilkan oleh Riri Riza pada film Bebas kolaborasi antara flashback dan masa saat ini. Ketika Vina berkunjung dan kembali ke sekolah lamanya maka scene berubah ke cerita sekumpulan remaja.

Vina sebagai anak SMA dari Sumedang diperkenalkan sebagai anak baru, digambarkan dengan karakter terkesan kucel dengan kulit agak gelap serta rambut berkebang dua simetris. Semenjak kapan jika anak desa baru berkunjung ke kota selalu diperlihatkan seperti ini?

Dan cukup mengherankan jika gadis remaja dari Sumedang yang berkulit agak gelap yang hampir eksotis, karena rata-rata orang Sunda punya warna kulit lebih cerah.

Sebagai murid baru yang lugu tentu Vina muda (Maizura) tidak terlepas dari godaan temannya, untungnya ada Kris (Sheryl Sheinafia) yang begitu bersahabat serta teman sebangku Jessica (Agatha Pricilla), salah satu murid perempuan yang begitu terobsesi dengan alis menawan.

Cukup salut dengan pemilihan kelengkapan fashion pada latar waktu 1995 yang dipilih oleh fim Bebas. Para siswa pria dengan menggulung lengan baju, jaket parasut besar dengan warna terang kemudian diikat di pinggang ditampilkan.

Bagi yang ingin nostalgia sebagai remaja 90-an tentu ini akan cukup bisa mengobati rasa rindu semasa SMA. Karena celetukan khas di dalam kelas juga menjadi pelengkap suasana kelas yang riuh renyah menjadi canda tawa.

Hari pertama Vina masuk sekolah sudah sangat beruntung karena langsung mendapatkan teman yang terlihat cukup berpengaruh, selain Kris dan Jessica Ia juga dikenalkan dengan Gina (Zulfa Maharani), sebagai anak dari pengusaha kaya. Serta Suci (Lutesha) yang telah populer menjadi Gadis sampul. Dan satu-satunya anggota pria yaitu Jojo (Baskara Mahendra).

Kunjungan Vina ke sekolah lamanya mempertemukan kembali bersama ibu guru Retno (Tika Panggabean). Dari sini lah mendapatkan informasi bahwa Jessica juga telah berkunjung untuk menawarkan asuransi. Suatu kebetulan yang tidak terduga.

Jessica dewasa diperankan oleh Indi Barends masih tetap sama dengan versi remajanya yang begitu terobsesi dengan alis, meski menjadi bahan tertawaan oleh sesama rekan kerjanya.

Indi Barends sangar terlihat tidak kesulitan untuk mengambil peran ini, selain terlihat natural Ia seperti memerankan diri sendiri. Seperti penampilan biasanya yang sudah sangat familiar di layar kaca.

Salah satu hal yang cukup menghibur, nada dering panggilan seluler Jessica sangat tidak biasa. Ketika menulis ini saya masih bisa mengingat dengan jelas gelak tua seisi ruangan bioskop. Kamu penasaran? Harus menonton untuk menemukan scene ini.

Dengan begitu mudah, nostalgia geng Bebas kembali terjadi di ruang perawatan Kris. Sungguh menyenangkan tentunya bisa bercerita banyak bersama kawan lama setelah dua dekade tidak bertemu.

Meski ada bagian tidak menarik, ketika berhadapan akan fakta perpisahan selamanya dengan salah satu anggota geng Bebas juga akan segera terjadi.

Penyakit yang diderita Kris tidak diinformasikan dengan jelas. Hanya dari percakapan bersama Vina Ia baru mengungkapkan bahwa telah diprediksi bahwa waktu di dunia tinggal beberapa bulan lagi.

Perbincangan Vina, Kris dan Jessica berlanjut untuk mencari dan mengumpulkan anggota geng Bebas.

Secara kebetulan juga Jessica punya akses tepat, orang ini adalah Dedi. Salah satu teman sekelas mereka yang suka menyanyikan Vina dengan lagu Vina Panduwinata.

Sungguh jika mengingat scene ini bisa membuat tersenyum mengingat kembali kepada masa menyenangkan di bangku SMA. Kamu dan teman sekelas saling tertawa meski guru sudah mencoba menegur seisi kelas. Banyak kepala dengan beragam tingkah laku tentunya.

Di dadaku .. ada senyummu
Ada cintamu .. ada hasratmu
Ada kumismu .. ada kupingmu
Di dalam dadaku .. ada kamu

Potongan lirik dari hits Vina Panduwinata dinyanyikan dengan versi acapella oleh seorang kokoh kerkaca mata yang cukup tambun. Yap, dia adalah Dedi yang sudah dewasa (Edward Suhadi), Jessica dan Vina hanya tersnyum dengan ekspresi terlihat begitu menikmati suaranya.

Memang tidak terlalu merdu, namun cukup menghibur. Meski dari luar ruangan ada beberapa pria berjaket hitam dan atasan serba gelap mengintip keheranan kelakuan bosnya, dan mereka mendapat bentakan dari Dedi karena berusaha kepo.

Ini hal menarik, Dedi terlihat begitu lemah lembut terhadap depan wanitanya. Namun begitu garang kepada bawahan yang bahkan punya penampilan jauh lebih sangar dari pada Ia sendiri. Bagai sebuah bukti bahwa pertemanan memiliki posisi penting tersendiri.

Pencarian para anggota geng Bebas yang telah sekian lama berpisah terlihat begitu memberikan energi baru bagi Vina, mungkin juga karena rutinitas sebagai ibu rumah tangga.

Suami sibuk dengan pekerjaan sedangkan hubungan bersama anak perempuannya yang telah berseragam abu-abu tampak tidak terlalu dekat.

Photo: IMDb

Jika mengenang kembali pada masa-masa indah geng Bebas, olahan tangan Riri Riza terlihat begitu sukses mengembalikan nostalgia pada era 90-an. Sebelum internet menguasai dunia yang didukung oleh smartphone hingga semesta seakan berubah hanya menjadi seluas lima sampai delapan inci belaka.

Kita akan disuguhkan dengan kelompok siswa yang melakukan tarian berkelompok mengikuti suatu lagu, di film Bebas penata koreografi adalah Jojo. Yap, seorang pria kemayu satu-satunya dengan sisanya remaja perempuan.

Adu bacot antar geng pada era 90-an memang tidak seberingas remaja millennial tentunya, banyak aksi kekerasan yang membuat kita tidak percaya bahwa hal itu dilakukan oleh anak-anak di bawah umur.

Keikut sertaan Vina pada awalnya menjadi titik lemah, karena memiliki penampilan beda sendiri dan belum satu pun melancarkan jurus terbacot. Namun apa yang terjadi?

Dengan sedikit berbohong Kris menyatakan bahwa Vina akan menjadi berbahaya jika telah kesurupan. Tanpa diduga karena serangan asam lambung Ia mengamuk dan mengumpat lengkap dengan sorot mata menakutkan.

Musuh menjadi ketakutan dan kabur, tidak semudah itu tentunya. Karena mereka juga sedang berada pada lokasi tawuran antar anak STM maka aksi kejar-kejaran pasca adu bacot menjadi hiburan tersendiri.

Yang saya kagumi dari film Bebas, tidak ada aksi kekerasan nyata nan sadis, narkoba atau bahkan seks bebas. Meski ada ciuman namun itu juga hanya sesaat. Jadi film ini mengisahkan kenakalan dengan wajar pada masanya. Dikemas menyenangkan.

Dan ternyata pemilihan nama geng juga diambil dari lagu Iwa K dengan judul Bebas. Ini pemilihan yang tepat, siapa di era 90-an yang tidak tau lagu ini?

Riri Riza dan Mira Lesmana juga melengkapi property berdasarkan latar waktu, dari telepon rumah, radio tape. Bahkan walkman, jika punya benda ini maka kamu akan terlihat begitu keren.

Namun tidak pas ketika scene di dalam gerbong kereta, bangku kereta yang telah berbusa adalah sebuah transformasi terkini KAI. Jaman 90-an kereta api cukup memprihatinkan.

Pencarian Vina, Jessica dan Jojo yang ketika dewasa yang diperankan oleh Baim Wong tidak selalu mudah. Gina (Widi Mulia) yang mereka temui mengalami keadaan ekonomi yang sudah sangat kontras dengan kehidupan remajanya. Ada suka tentu juga duka, alur nan menggugah emosi dan tidak selalu menyenangkan.

Cinematography pada film Bebas terasa begitu menarik pada serentetan scene flashback. Terutama karena pemilihan tone. Pemilihan soundtrack juga cukup baik, kurang lengkap bukan jika Dewa 19 tidak masuk pada daftar ini? Heheh

Konklusi

  • Film Bebas kan menghiburmu tanpa didominasi oleh aktor komedian.
  • Alur campuran flashback dan saat ini tidak akan membingungkan, karena setiap karena diberikan ruang masing-masing untuk ditampilkan.
  • Karakter berkembang seiring berjalan waktu, hebatnya para aktor beda usia saling mempertahankan identitas karakter yang mereka perankan.
  • Suatu film yang mengajarkan bahwa pertemanan bisa bertahan sangat lama.
  • Hai millennial masa remajamu belum tentu lebih seru jika dibandingkan kami generasi yang diperbudak internet dan gadget. Seakan ini yang ingin diucapkan oleh sutradara.

Tomi memiliki sedikit kemampuan fotografi dan desain grafis, serta videography.Cukup suka menonton film dan travelling.Saat ini sedang menjual es warna warni. Dan kembali belajar menulis di Quora.

4 comments On Review Film Bebas (2019), Reuni Hangat yang Menghibur

Leave a Reply

%d bloggers like this: