Review Film Gundala (2019), Pengenalan Yang Apik dari Tangan Joko Anwar

Langkah awal yang menggugah untuk Bumi Langit Universe

Photo: IMDb

Disclaimer: Sangat berbau spoiler dan kemungkinan besar agak membosankan. Ditulis berdasarkan In My Sotoy Opinion.

Trailer Gundala (2019) cukup berhasil membuat penikmat film Indonesia menjadi penasaran. Scene yang ditampilkan begitu chaos, sepintas telah mengesankan bahwa dunia hitam putih antara baik dan jahat kembali dipentaskan. Penindasan terhadap rakyat oleh penguasa.

Serta tidak lupa aksi pertarungan yang sepertinya terlihat cukup realistis.
Banyak komentar positif dan tidak sedikit tentunya yang skeptis duluan, seperti jawaban-jawaban pada pertanyaan ini:

Bagaimana pendapatmu tentang film “Gundala Putra Petir” yang kini sedang digarap dan rencananya akan dibuat dengan konsep “universe” layaknya Marvel dan DC?

Ada yang membahas storytelling, CGI, pemilihan artis yang itu-itu lagi, kostum. Bahkan konsep ‘universe’ yang ikut-ikutan.
Bukankah para superhero dari komik Indonesia dari awal diciptakan memang ikut-ikutan meniru karakter dari komik dan DC dan Marvel? Coba perhatikan seksama teknik gambar bahkan warna serta bentuk ototnya.

Sekelas Marvel juga awalnya menjadi follower DC bukan?

Hingga sukses sampai saat ini. Baru lah ketika mengenalkan konsep ‘universe’ Marvel Cinematic Universe (MCU) jauh lebih matang hingga sukses besar.

Oke, bagaimana dengan Gundala? Saya menyarankan Anda menonton film ini. Meski dengan beberapa kekurangannya, setidaknya sebuah awal dari kerja keras proyek jangka panjang (semoga jadi) Bumi Langit Universe. Saya cukup optimis jika mempertahankan, mengembangkan dan konsistensi maka proyek ini akan sangat ditunggu tiap filmnya.

SPOILER ALERT!!!

Memasuki bioskop sendirian kemudian mencari tempat duduk sesuai nomor tiket, memerhatikan sekeliling untuk memastikan.

Berapa kira-kira bangku yang kosong ketika menonton film ini?

Ketika membeli tiket dengan asumsi kasar seorang pria lajang yang sedikit brewokan, maka saya mendapatkan angka sekitar 67,2 % warna merah, dan sisanya kotak warna hijau yang artinya bangku kosong. Apakah karena hari pertama atau memang golongan ‘skeptis’ cukup banyak?

Ah sudah lah, yang penting menonton.
Scene pembuka langsung menyuguhkan chaos sekumpulan massa, sepertinya para buruh yang kurang jelas juga tuntunyannya apa, karena tempo di sini bagi saya berasa cukup cepat. Jujur agak shock karena langsung disuguhkan dengan tensi tinggi penuh tekanan.

Ayah Sancaka (Rio Dewanto) dikisahkan sebagai sosok pemimpin para buruh. Selalu berdiri di garis depan untuk berhadapan dengan petugas keamanan pabrik, soundtrack pada scene pembuka ini cukup bagus.

Serta pengambilan gambar dengan latar tempat yang ‘wah‘. Awan yang selalu mendung semakin menguatkan kesan dark yang kuat pada film Joko Anwar.

Dari awal trailer muncul saya sudah merasa kalau film ini terinspirasi dari The Dark Knight Trilogy karya Christopher Nolan.

Saya cukup kagum kepada Ical Tanjung yang bertanggung jawab pada bidang cinematography.
Pemilihan pabrik tua yang begitu luas, serta pipa baja raksasa yang melintang pada ketinggian. Saya cuma menyayangkan untuk ukuran massa buruh pabrik ketika chaos berasa terlalu sedikit.

Jika jauh lebih banyak maka akan semakin membuat cerita jauh lebih nyata.
Kemudian angle kamera yang sering berpindah ketika scene perkelahian cukup berhasil membuat kepala pusing dan berasa kebingungan setelahnya. Apa mungkin style begini lagi tren?

Ada juga hal lain yang membuat saya heran, ketika massa buruh baku hantam dengan petugas keamanan pabrik, tiba-tiba mereka langsung berhenti secara serentak hanya karena mendengar suara dari megaphone yang menyuruh untuk menghentikan semua aksi kekesaran.
Bukankah ketika sedang panas oleh amarah tidak akan semudah itu diredakan.

Lanjut menonton, setelah scene pembuka yang berlalu cepat dengan tensi tinggi. Sepertinya tidak diberikan kesempatan untuk menghela nafas sedikit lebih lama. Ini seperti dikeroyok beberapa orang sekaligus tanpa bisa kabur atau membela diri

Ketika beralih ke scene di dalam rumah Sancaka, saya kembali mengerutkan alis, kumpulan foto keluarga terlihat agak begitu mencolok, seperti baru di-print tentunya lebih bersih jika dibandingkan dinding rumah yang begitu lusuh. Ini bisa diperhatikan beberapa kali.

Latar waktu yang ditampilkan pada kisah Sancaka kecil (Muzakki Ramdhan) menurut saya cukup membingungkan, karena jika melihat pakaian yang dikenakan para perempuan termasuk Kurniati Dewi (Marissa Anita) si ibu Sancaka, serta lampu pijar dan arsitektur gedung maka dugaan yang muncul ini pada masa 70-an atau 80-an atau mungkin bisa juga pada 60-an.

Yang mengherankan munculnya mobil Mercedes Benz C-Class. Kalau mengacu pada data dari Wikipedia.

The Mercedes-Benz C-Class is a line of compact executive cars produced by Daimler AG. Introduced in 1993 as a replacement for the 190 (W201) range, the C-Class was the smallest model in the marque’s line-up until the W168 A-Class arrived in 1997. The C-Class built at Mercedes-Benz factories in Sindelfingen and Bremen, Germany as well as numerous satellite factories in other countries. The first C-Class (W202) sedan produced on 1 June 1993 and the opening of the second generation (W203) rolled off the assembly line on 18 July 2000. The C-Class has been available with a 4Matic (i.e., four-wheel drive) option since 2002. The third generation (W204) was launched in 2007 while the latest generation C-Class (W205) came out in 2014.

Mercedes-Benz C-Class – Wikipedia
Entah memang sengaja atau tidak tersorot begitu jelas tulisan ‘C240’ tentunya juga dengan logo legendaris Mercedes Benz.

Pada scene dimunculkan Bajaj (Bajay) dengan tampilan jelas bahwa itu di tahun 2019. Karena desain Bajay dengan tahun yang lebih tua memiliki khas vintage yang gempal. Dan tidak selang berapa lama muncul sepasang suami istri dengan mobil BMW, kalau dari tampak depan dengan desain grill yang khas saya menduga mobil ini diproduksi paling tua pada tahun 90-an.

Semoga film selanjutnya kita bisa menyaksikan mobil Esemka (jika memang ada), lumayan untuk promo.

Mungkin karena punya ‘universe’ sendiri yang tidak mengacu pada sejarah dunia nyata. Maka hal ini saya abaikan dan kembali menonton.

Saya menemukan ada kejanggalan lain, pada scene-scene awal kita disuguhkan dengan tone yang begitu dark tentunya dengan contrast kuat.

Namun, ketika lokasi yang ditampilkan sepertinya di Pelabuhan Sunda Kelapa, tone-nya menurut saya tidak konsisten.

Mungkin bisa jadi karena faktor lain, kalau diperhatikan lebih jauh dugaan saya ketika take video di Sunda Kelapa memang terlihat cukup cerah. Apakah ini yang menjadi kendala untuk menyeragamkan tone? Who know?

Kembali menonton, adegan perkelahian antar remaja cukup menarik meski angle kamera masih tetap memusingkan. Namun, agak kecewa ketika Sancaka kecil berdialog dengan Awan.

Mereka berbicara tidak terlihat natural, terutama pemeran Awang. Dialognya kaku, ekspresinya juga sama. Atau mungkin memang seperti itu karakter yang dikisahkan.Hal ini teralihkan berkat cinematography apik yang kembali mencuri perhatian. Latar tempat juga cukup konsisten dengan pemukiman serba gedung tua.

Ada momen perpisahan yang dikemas dengan visual yang juga mengharukan, sungguh film yang syarat emosional.

Sancaka kecil yang diperankan Muzakki Ramdhan menurut saya jauh lebih sukses mengguncang emosi, mungkin juga karena skenario pembuka sangat kelam dengan segala perjuangannnya. Sehingga ketika Sancaka dewasa (Abimana Aryasatya) berusaha untuk lebih apatis. Untuk menghindari masalah jika membantu orang lain.

Buat apa hidup di dunia jika tidak peduli sama orang lain

Kira-kira seperti itu lah ucapan pak Agung (Pritt Timothy) yang membuat Sancaka tersadar, puncaknya ketika Wulan (Tara Basro) berada dalam bahaya. Bermula dari konflik kecil akhirnya terlibat serentetan perkelahian dengan preman pasar hingga pembunuh bayaran asuhan Pengkor (Bront Palarae).

Pengkor awalnya cukup mencuri perhatian, dikisahkan oleh Ridwan Bahri (Lukman Sardi) dengan begitu baik. Ketika ada seorang legislatif muda yang berkunjung pada suatu pesta. Sayangnya memancing konfrontasi sang antagonis utama, dan terlalu mudah ditebak nasibnya bakal seperti apa.

Karakter Pengkor berwajah tidak terlalu menakutkan meski ada luka bakar, mata tajam mengancam dengan suara serak. Kadang terkesan agak membosankan karena beberapa kali berpidato panjang lebar ketika baru memasuki ruangan. Bicara keadilan versi dirinya sendiri.

Menurut Ridwan Bahri, si Pengkor ini punya ribuan anak yatim yang terorganisir bisa digerakkan sebagai pembunuh. Namun, sayangnya kengerian organisasi tersebut tidak begitu diperlihatkan. Meski nantinya memunculkan beberapa orang villain untuk membunuh Sancaka.

Pemanggilan para villain ini menurut saya cukup terburu-buru, kita hanya dikenalkan dengan beberapa orang berbeda yang mendapatkan panggilan dari orang yang sama. Jika pas memunculkan para karakter ini dituliskan nama serta julukan tentu kita bisa mengingat nama mereka dengan baik.

Ketika mencari referensi di IMDb, banyak aktor yang tidak menggunakan profile picture. Jadi mohon ma’af jika data saya juga tidak lengkap.

Lucunya pada bagian akhir pengeroyokan terhadap Sancaka seperti tidak terlalu serius, villain yang disiapkan melawan bergantian, kemudian mereka bergantian menyerang. Terus menghilang entah kemana, kemudian muncul lagi memberikan serangan.

Hanya ketika bertarung dengan Swara Batin (Cecep Arif Rahman) terlihat lebih realistis.
Film Gundala menurut saya cukup bagus untuk membuka perjalanan Bumi Langit Universe.

Photo: IMDb

Catatan tambahan:

  • Saya sangat berharap ada penegasan latar waktu yang cukup jelas, karena ini sudah dipublikasikan dengan konsep ‘universe’ yang telah didengungkan. Supaya juga bisa berpatokan nantinya pada timeline setiap film.
  • Kostum Gundala, bagi Sancaka pada film ini kostum bukan untuk terlihat keren. Hanya untuk menutupi identitas dan supaya rekannya tidak tersengat efek listrik ketika Ia disambar petir. Berbahan seadanya, malah jadi aneh dengan belakang ekonomi dan keadaan sosial yang begitu kacau ada superhero yang mengenakan kostum canggih atau cukup bagus dan fashionable. Hahaha
  • Computer-Generated Imagery (CGI), jangan terlalu skeptis dulu karena efek petir yang menyambar Gundala sudah pada porsinya tidak berlebihan. Dan juga tidak terlalu sering digunakan. Meski ketika kebakaran pasar, efek api masih terlihat belum sepenuhnya nyata. Overall sudah cukup bagus menurut saya.
  • Easter egg, ada beberapa yang menarik akan kemunculan superhero serta villain selanjutnya.
  • Humor, awalnya saya menduga ini film serius yang penuh konflik. Ternyata Joko Anwar cukup peka menyisipkan humor. Semoga saja bisa seperti Thor atau Guardians of the Galaxy.

Tomi memiliki sedikit kemampuan fotografi dan desain grafis, serta videography.Cukup suka menonton film dan travelling.Saat ini sedang menjual es warna warni. Dan kembali belajar menulis di Quora.

1 comments On Review Film Gundala (2019), Pengenalan Yang Apik dari Tangan Joko Anwar

Leave a Reply