Top 10 Film Tentang Fotografi yang Sangat Layak Untuk Disimak

Film tentang fotografi, Udasukaria

Jika kamu mengetik di mesin pencari Google atau Bing dengan keyword “Photography Movie” atau “Film Tentang Fotografi” maka akan dimunculkan beragam rekomendasi. Bahkan ada yang memberikan 40 daftar sekaligus.

Sayangnya saya tidak punya referensi sebanyak itu untuk dibagikan kepada Anda. Rekomendasi di bawah berdasarkan pengalaman pribadi setelah menontonnya.

Meski pada film The Genius of Photography (2007) belum sepenuhnya khatam, karena ini seri dokumenter menarik yang cukup panjang.

Berikut rekomendasi serta ulasan singkat film tentang fotografi:

1. Finding Vivian Maier (2013)

Film ini adalah sebuah dokumenter yang dibuat oleh John Maloof, awalnya Ia menemukan suatu kotak penuh negatif/klise film pada rumah lelang.

John menjadi penasaran untuk mencari tahu mengenai identitas fotografer pemilik negatif film ini. Akhirnya setelah dikumpulkan total keseluruhan foto mencapai angka 100.000.

Investigasi John berlanjut hingga menemukan bahwa nama pemilik negatif film adalah Vivian Maier. Dengan profesi sebagai pengasuh bayi.

Saya sangat kagum dengan perjuangan John, tak tanggung-tanggung hingga melibatkan fotograger legendaris seperti Joel Meyerowitz.

Film ini cukup mencuri perhatian karena nama Vivian Maier begitu asing dalam sejarah fotografi, namun karyanya sungguh sangat artistik.

Sejarah memang tidak banyak mengisahkan fotografer hebat dari kalangan perempuan, kisah ini akan memotivasi tentunya.

Mungkin saat ini Vivian Maier bisa lega karena berkat John Maloof karyanya sudah berada di tempat yang layak seperti The Museum of Modern Art (MoMa).

Anda bisa mengakses karya Vivian Maier di sini.

2. The Salth of The Earth (2014)

Masih dengan film dokumenter, sepertinya The Salth of The Earth (2015) lebih cocok dikatakan sekaligus sebagai film biopik untuk perjalanan 40 tahun karir seorang Sebastiao Salgado di dunia fotografi.

Di sini diceritakan bagaimana awalnya Salgado mengenal fotografi, kamera yang dibeli oleh istrinya Lelia segera berpindah tangan.

Salgado dengan latar belakang seorang ekonom berganti profesi menjadi fotografer. Bukan proses yang mudah tentunya.

Scene yang berkesan bagi saya pada awal-awal film adalah ketika ditampilkan kumpulan foto para penambang emas di Brazil.

Begitu dalam emosi yang disampaikan sehingga seakan bisa merasakan bagaimana keserakahan dan harapan berbaur menjadi satu.

Tentunya didukung oleh khas foto hitam putih ala Salgado dengan high contrast.

Dan nanti Anda akan disuguhkan kenyataan pahit bagaimana manusia menghadapi masalah kemanusiaan seperti bencana kelaparan.

Dari film ini saya lebih memahami bahwa seorang fotografer bukan hanya fokus untuk mengabadikan momen. Namun juga mencurahkan segenap perasaan melalui fotonya.

Seperti kepedulian terhadap lingkungan. Bahkan Salgado bersama istri Lelia berhasil menghijaukan kembali kawasan yang cukup luas di lembah tempat tinggal mereka.

FYI, lokasi film ini juga sebagian berlangsung di Papua, Indonesia.

3. The Bang Bang Club (2010)

The Bang Bang Club mengisahkan kisah empat orang pewarta foto di Afrika Selatan. Greg Marinovich (Ryan Phillippe), Kevin Carter (Taylor Kitsch), Joao Silva (Neels van Jaarsveld), Ken (Frank Rautenbach).

Kisah pada film ini berlokasi di Afrika Selatan ketika politik apartheid sedang memanas. Kekerasan tidak manusiawi bagaikan tontonan keseharian.

Puncaknya ketika Greg mengabadikan sebuah foto seseorang yang dibakar hidup-hidup.

Film tentang fotografi, UdasukariaGreg Marinovich

Berkat foto ini Greg meraih kemenangan di Pulitzer Prize pada tahun 1991. Tentu empat sekawan ini menjadi pembicaraan banyak orang. Sehingga The Bang Bang Club makin terkenal.

Saya menjadi kagum kepada mereka yang tidak kenal takut, padahal nyawa menjadi tantangan. Hingga akhirnya merenggut nyawa Ken karena terkena luka tembak pada salah satu peliputan.

Baca juga: Sejarah Dan Perkembangan Kamera Dari Masa Ke Masa

Menurut rumor yang beredar kematian Ken juga menjadi salah satu pemicu Kevin Carter memilih bunuh diri, terlepas dari tekanan akan proses pengambilan salah satu fotonya yang juga berhasil memenangkan Pulitzer.

4. Kodachrome (2015)

Film ini lebih berpusat antara kisah Ben (Ed Harris), Matt Ryder (Jason Sudeikis). Mereka dua orang ayah dan anak yang tidak terlalu memiliki hubungan baik.

Ben sebagai ayah dikisahkan sebagai fotografer veteran yang sinis, dan sering kali bersikap semaunya. Ia memiliki seorang asisten Zooey Kern (Elizabeth Olsen).

Ketika pertama kali mendengar kabar bahwa Kodachrome (2017) akan rilis, saya dan beberapa kawan penggemar kamera analog cukup antusias.

Dengan ekspektasi akan banyak membahas seputar film Kodacharome yang diproduksi Kodak ini. Dan sudah tidak diproduksi semenjak tahun 2009.

Ternyata pada alur Kodachrome (2017) lebih banyak berfokus pada kisah ayah dan anak yang penuh intrik sepanjang perjalanan, dan Zooey tentu menjadi penengah.

Meski tidak terlalu banyak membahas fotografi, di sini kita tetap diberikan pelajaran bahwa seorang pengkarya begitu menjaga dan punya standar tersendiri terhadap kualitas karyanya.

Serta pandangan hidup yang tidak terduga keluar dari mulut pria tua Ben yang sepanjang film selalu berlaku sarkas.

5.War Photographer (2001)

Jika pada The Bang Bang Club kita disuguhkan dengan film drama para pewarta foto yang cukup berani untuk tampil ke area konflik, pada film dokumenter War Photographer maka James Nachtwey seperti mempraktikkan pandangan Robert Capa yang begitu terkenal:

If your pictures aren’t good enough, you aren’t close enough.

Pada setiap lokasi pengambilan foto James Nachtwey berdiri persis diantara kerumunan orang yang terlibat konflik, jangan tanyakan kemungkinan resiko yang didapatkan karena kita membahas ini.

Film ini akan membuka wawasan terhadap begitu peliknya kehidupan yang mungkin saja tidak terbayangkan oleh banyak orang.

James Natchwey menyajikan foto dengan rasa pilu yang mendalam tanpa sentuhan artistik ala Salgado.

6. Henri Cartier-Bresson: The Impassioned Eye (2003)

Sebagai orang yang baru menggeluti fotografi dengan adanya film biopik Henri Cartier-Bresson: The Impassioned Eye (2003) saya merasa cukup beruntung bisa mengenal lebih jauh sosok legendaris seorang Henri Cartier-Bresson (selanjutnya HCB).

Di sini akan menjawab kenapa HCB sering kali dibahas sebagai fotografer dengan gaya surealis. Dan latar belakang perjalanan hidupnya hingga menghasilkan karya yang begitu dikenang.

Apa lagi ketika HCB berada di India menjelang Gandhi meninggal dunia pada tahun 1948.

Film tentang fotografi, UdasukariaHenri Cartier-Bresson / INDIA. Delhi. 1948. The cremation of GANDHI on the banks of the Sumna River. / Magnum Photos

Pada film akan menceritakan banyak kisah dibalik karya-karya yang dihasilkan HCB. Dan tentu saja melibatkan nama besar yang bebagi pengalaman dan pandangannya seperti Elliott Erwitt dan Jousef Koudelka.

Saya rasa bagi Anda yang menggeluti Street Photography, Documentary serta Photojournalism. Sebaiknya menonton film ini dengan seksama.

Memang tidak akan semenegangkan kisah James Natchwey atau filosofis seperti biopik Sebastiao Salgado. Sebagai salah seorang pendiri agensi Magnum Photos dan pencetus konsep Desicive Moment tentu sangat sayang melewatkan film ini ke daftar tontonan Anda.

7. Everybody Street (2013)

Saya menonton film ini sepertinya pada tahun 2015 akhir, begitu kagum karena berisi nama-nama besar dengan karya menakjubkan tentunya.

Scene paling berkesan tentu ketika Joel Meyerowitz mulai berbagi kisah dan ditampilkan bagaimana cara Ia mengambil foto.

Bruce Davidson juga tidak kalah menarik dengan proyek foto Subway, seperti sebuah rekaman sejarah sisi lain transportasi yang dikerjakan dalam waktu cukup panjang.

Ada juga Boogie dengan proyek foto seputar kalangan suburban, gangster dan kehidupan yang tidak lepas dari narkoba. Ini suatu gelap kehidupan jalanan yang tidak akan kita temukan di media mainstream.

Film tentang fotografi, UdasukariaBoogie

Atau Anda juga penasaran dengan sosok Bruce Gilden yang sering dianggap kontroversial dalam ranah Street Photography?

Silahkan menonton film ini karena Elliott Erwitt, Marry Ellen Mark, Ricky Powell dan masih banyak nama besar lainnya akan berbagi kisah.

8. Fur: An Imaginary Portrait of Diane Arbus

Saya sempat penasaran dengan karya portrait Diane Arbus, seakan karakter yang difoto berasal dari kisah fiksi film Big Fish (2003) karya Tim Burton.

Fur: An Imaginary Portrait of Diane Arbus mencoba menjawab penasaran tersebut. Yap, ini adalah film drama yang tentu juga dipoles dengan kisah roman.

Namun, bagi saya ini sudah cukup menjelaskan proses kreatif di balik karya unik seorang Diane Arbus.

Dan jangan heran jika film ini cukup bagus karena diperankan oleh aktor dan aktris dengan nama besar.

9. The Secret Life of Walter Mitty (2013)

Pada film The Secret Life of Walter Mitty (2013) ini akan cukup berbeda dengan judul lainnya yang sudah saya bahas. Memang tidak akan fokus kepada kehidupan seorang fotografer.

Walter Mitty menjabat sebagai negative assets manager di majalah LIFE yang dikisahkan akan mengalami transisi ke media daring. Pekerjaannya ini berhubungan dengan seorang pewarta foto Sean O’Connell.

O’Connell percaya jika negatif film dengan urutan pengambilan no. #25 akan menjadi pilihan terbaik untuk sampul edisi terakhir majalah LIFE yang dicetak.

Namun sayangnya negatif film yang disebutkan tidak ditemukan. Maka mulai lah pencarian Walter Mitty untuk menemui O’Connel dengan harapan sekaligus mendapatkan sampul depan majalah.

Meski tidak begitu banyak membahas fotorafi, bukan berarti tanpa pelajaran berharga dari seseorang fotografer ditiadakan. Kamu akan menemukannya ada bagian akhir.

10. The Genius of Photography (2007)

Dari semua kumpulan film dokumenter dan bahkan film biopik yang sengaja khusus dibuatkan versi dramanya, The Genius Photography (2007) menjadi tontonan paling penting.

Film ini bagaikan kumpulan arsip sejarah dari awal mula munculnya fotografi hingga semakin jauh berkembang seiring perkembangan teknologi.

Kita tidak akan disuguhkan hanya dengan kisah fotografer dengan segala pencapaiannya, namun sudah melibatkan lintas profesi untuk membahas seputar fotografi.

Banyak fakta menarik yang tidak saya temukan diperkuliahan akan dijabarkan dengan begitu detail pada film ini.

Tomi memiliki sedikit kemampuan fotografi dan desain grafis, serta videography.Cukup suka menonton film dan travelling.Saat ini sedang menjual es warna warni. Dan kembali belajar menulis di Quora.

Leave a Reply