Review Film Joker (2019), Villain yang Menjadi Pahlawan

Lahirnya villain yang Mewakilili Rasa Muak Warga Gotham

Ekspektasi para penikmat film di seluruh dunia tentu begitu besar pada Joker (2019). Ini akan menjadi angin segar bagi DC karena karakter dari komiknya masih selalu ditunggu oleh para penggemar, meski Marvel telah sukses mencuri popularitas tren film superhero dengan proyek besar Marvel Cinematic Universe (MCU).

Semakin membuat penasaran pasca kemenangan di Venice International Film Festival 2019. Penampilan Joaquin Phoenix banyak diperbincangkan.

Oke mari kita mulai review lengkap film Joker (2019)

SPOILER ALERT!!!

Scene pembuka awalnya terkesan datar saja, namun sudah menegangkan. Saling bunuh atau bertarung?

Tidak, tidak seperti itu. Hanya seorang pria dengan rambut cukup panjang sedang duduk sambil menatap diri sendiri dari kaca besar meja rias, dengan wajahnya yang didominasi riasan putih.

Kedua jari telunjuk dimasukkan ke dalam mulut untuk membuka senyumnya lebih lebar.

Entah karena musik latar yang begitu dramatis atau memang ekspresi pria ini yang terlihat mencoba tersenyum meski terasa ada kegetiran tertahan pada dirinya.

Perlahan adegan berganti ke sesi konseling Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) bersama seorang perempuan yang sepertinya berprofesi sebagai Psikiater. Dalam ruang yang tidak terlalu besar, Arthur tertawa namun entah kenapa terkesan tidak bahagia.

Sekilas ini mengingatkan kepada tawa Joker pada film Batman: The Killing Joker (2016). Namun Joaquin Phoenix menampilkan ekspresi dan tertawa yang jauh lebih menakutkan.

Dari berbagai saya penasaran apa penyakit yang diderita oleh Arthur Fleck ini, mengutip dari Indiewire ternyata Joaquin Phoenix mempelajari para penderita Pathological Laughter and Crying (PLC). Joaquin Phoenix Says He Based His ‘Joker’ Laugh on a Little-Understood Real-Life Ailment.

Apa itu PLC?

Mari simak penbajaran berikut,

Patients with pathological laughter and crying (PLC) are subject to relatively uncontrollable episodes of laughter, crying or both. The episodes occur either without an apparent triggering stimulus or following a stimulus that would not have led the subject to laugh or cry prior to the onset of the condition.

PLC is a disorder of emotional expression rather than a primary disturbance of feelings, and is thus distinct from mood disorders in which laughter and crying are associated with feelings of happiness or sadness.

The traditional and currently accepted view is that PLC is due to the damage of pathways that arise in the motor areas of the cerebral cortex and descend to the brainstem to inhibit a putative centre for laughter and crying. In that view, the lesions disinhibit' orrelease’ the laughter and crying centre.

The neuroanatomical findings in a recently studied patient with PLC, along with new knowledge on the neurobiology of emotion and feeling, gave us an opportunity to revisit the traditional view and propose an alternative.

Here we suggest that the critical PLC lesions occur in the cerebro-ponto-cerebellar pathways and that, as a consequence, the cerebellar structures that automatically adjust the execution of laughter or crying to the cognitive and situational context of a potential stimulus, operate on the basis of incomplete information about that context, resulting in inadequate and even chaotic behaviour.

Sumber: Pathological laughter and crying: A link to the cerebellum. Oxford University Press

Semoga Anda telah memahaminya,

Coba kita bayangkan bagaimana jadinya ketika perasaan sedih atau tertekan malah tertawa dan susah untuk menahannnya?

Mari lanjut menonton, pada konseling tiap pertemuan Arthur diwajibkan menulis catatan. Mirip seperti jurnal harian, ada suatu bagian memiliki kutipan cukup jelas. Lebih kurang isinya seperti ini:

I hope my death is more worthy than my life

Saya menjadi mengelus dada ketika membaca ini, bagaimana kehidupan yang dilalui seseorang sehingga Ia berharap kematiannya menjadi lebih layak?

Setelah ini landscape kota ditampilkan begitu megah oleh pencakar langit, dan rel kereta api membelahnya menjadi dua. Saling bersisian cinematography pada scene ini akan membuat Anda, saya dan segenap penonton lainnya akan dibuat kagum.

Photo: IMDb

Dalam suatu kendaraan yang ditumpangi Arthur, Ia mencoba menghibur seorang anak kecil yang melihat heran kepadanya. Dengan kemampuan seorang badut merubah ekspresi wajah cukup sukses membuat anak ini tertawa.

Namun, sayang ibu si anak sepertinya tidak berkenan. Malah beranggapan kalau Arthur hanya menganggu, Ia malah tertawa sehingga semua orang menjadi heran.

Di sini lah mulai dijelaskan apa penyakit yang diderita, Arthur selalu membawa kartu dengan informasi tertulis bahwa Ia kadang tertawa meskipun tidak diinginkan.

Ibu si anak kecil akhirnya hanya mengembalikan kartu tersebut dengan ekspresi iba.

Dalam mengiringi perjalanan pulang Arthur, musik latar membuat emosi semakin pilu dengan segala pahitnya kehidupan masyarakat kelas bawah. Kala itu kota Gotham sedang dipusingkan oleh serangan hama tikus yang dianggap tidak biasa.

Namun, sayangnya tidak dimunculkan jelas bagaimana atau dampak dari insiden ini. Infomasi yang didapakan hanya dari media televisi dan radio.

Dan dengan adanya permasalahan ini Thomas Wayne mengambil kesempatan menjadi Wali Kota Gotham. Dengan janji akan memberikan kehidupan lebih baik.

Sepertinya politisi di semua semesta punya janji klise yang sama untuk meraih dukungan.

Ada fakta menarik lainnya pada film Joker (2019). Sosok villain sadis yang selalu diingat sepanjang perjalanan kisah Batman ini ternyata pernah menjadi anak baik dan begitu berbakti pada orang tua.

Arthur Fleck tinggal bersama ibunya yang sudah lemah karena selain usia sepertinya Ia juga lemah karena penyakit yang diderita.

Penny Fleck (Frances Conroy) sebagai mantan karyawan Thomas Wayne (Brett Cullen) 30 tahun lalu, Ia selalu menunggu balasan surat dari mantan bosnya tersebut.

Dengan harapan hidup mereka akan menjadi lebih baik jika mendapat perhatian dari Thomas Wayne.

Penny memanggil Arthur dengan sebutan ‘Happy’, dan di depan ibunya Ia selalu terlihat bahagia. Terbukti juga ketika bagaimana mereka menikmati Murray Franklin Show.

Program TV ini dipimpin oleh host Murray Franklin, seorang komedian yang sepertinya sudah begitu populer. Terlihat dengan penuh harap Arthur berkhayal diundang ke studio tersebut.

Dalam khayal di studio, Arthur menjawab beberapa pertanyaan Murray, penuturan yang bisa menyentuh para penonton hingga Ia diundang naik ke atas panggung.

Pekerjaaan sebagai badut yang tiap harinya memegang papan pengiklan di jalanan juga tanpa resiko, kesialan menimpa Arthur karena kejahilan suatu gerombolan. Papannya direbut terjadi lah aksi kejar-kejaran.

Naasnya Arthur menjadi korban pengeroyokan, bahkan menerima dipukul dengan papan iklannya. Ini sungguh memilukan. Karena terlihat Ia tidak begitu berdaya tanpa bisa memberikan perlawanan.

Photo: IMDb

Pada scene ini akan terasa semakin memilukan, Joker yang dikenal sadis sepanjang kisah Batman terlihat begitu menyedihkan. Dan perlu diberikan apresiasi untuk kekuatan cinematography dan kolaborasi bersama soundtrack yang selalu mendebarkan dengan ambient yang begitu gloomy.

Randall (Glenn Fleshler) menawarkan sebuah pistol sebagai bentuk perlindungan diri. Setelah mendengar info bahwa rekan kerjanya telah menjadi korban kekerasan. Awalnya Arthur menolak, meski akhirnya pemberian itu diterima juga.

Hoyt (Josh Pais) memanggil Arthur karena masalah hilangnya papan pengiklan, Ia menuduh Arthur mencuri papan tersebut.

Ini sungguh ironi, ketika seseorang yang dianggap aneh mudah diduga melakukan tindakan tidak disiplin. Arthur hanya tersenyum namun dengan ekspresi dan sorot mata yang begitu menakutkan.

Dan tentu saja soundtrack dan cinematography begitu harmoni mengiringi hingga menampilkan Arthur mengamuk menendang bak sampah. Hal ini lebih bagus setidaknya Ia mengekspresikan emosi dengan baik.

Sebagai sosok pria kesepian, Arthur Fleck juga mendapatkan kesempatan berkenalan dengan seorang perempuan cantik. Pertemuan itu terjadi ketika Ia berpapasan dengan Shopie Dumond (Zazie Beetz) dan anak perempuannya ketika mereka berada dalam satu lift.

Hal ini membuat Arthur terlihat sedikit lebih bahagia mengisi kekosongan hatinya yang selalu murung.

Keesokan harinya Arthur menguntit Shopie, dari awal keluar apartemen, kereta bahkan ke tempat kerja. Sudah sangat banyak kita penikmat film menyaksikan penguntit dengan menggunakan hoodie yang menutup kepala.

Dan ini berlangsung di siang hari, agak aneh jika tidak ada orang yang merasa terganggu atau curiga. Hebatnya, perilaku Arthur seperti akan membuat Shopie merasa ketakutan tidak terjadi.

Namun, sebaliknya Ia malah menemui Arthur ke kediamannya, seperti tidak merasa keberatan diikuti. Arthur dengan ramah juga mengenalkan diri sebagai stand up comedy.

Pertunjukan pertama Arthur tidak berlangsung lancar, Ia tertawa tanpa terkendali sehingga sulit untuk berbicara.

Sepertinya ini karena gugup hingga penyakit PLC menjadi kambuh, namun perlahan juga bisa membuat penonton tertawa.

Sophie ikut tertawa dalam keremangan ruangan klub komedi. Ini suatu momen cukup menyenangkan untuk disimak dibandingkan semua kisah memilukan lainnya.

Pekerjaan Arthur bukan hanya sebagai badut yang aktraktif di trotoar dengan papan iklan. Ia juga menerima panggilan seperti menghibur anak-anak di rumah sakit.

Terlihat sangat menikmati, dengan ekspresi begitu bahagia sembari diiringi lagu cerita khas anak-anak. Sayangnya keceriaan ini tidak berlangsung lama.

Tiba-tiba pistol terlempar ke lantai dengan begitu jelas keluar dari kostum badut Arthur, sontak saja semua orang dalam ruangan langsung shock. Apa lagi hanya anak-anak dan staf rumah sakit.

Bahkan ketika scene ini muncul penonton di sekeliling saya kompak mengatakan “ooowh”.

Hai, Todd Phillips.. tidak kah kamu akan mengizinkan kami para penonton menikmati momen bahagia sedikit lebih lama. Mungkin beberapa menit?

Tentu saja karena insiden ini Hoyt sebagai bos Ha-Ha tempat Arthur bekerja menjadi marah, meski beralasan bahwa pistol ini sebagai alat bantu pertunjukan.

Badut seperti apa yang menghibur anak-anak di rumah sakit sambil membawa pistol?

Ironisnya Randall memberikan info bahwa Arthur mendapatkan pistol itu sendiri. Tanpa diberikan kesempatan pembelaan diri Arthur dipecat dari Ha-Ha.

Ini membuktikan bahwa kepedulian seseorang tidak selalu tulus, malah bisa berubah menjadi fitnah yang sangat merugikan di kemudian hari. Dan Arthur bahkan tidak diberikan kesempatan membela diri.

Lagi dan lagi momen memilukan mengiringi langkah seorang pria baik yang bermimpi jadi pelawak ini.

Dengan soundtrack yang begitu kelam, suasana dalam kereta malam tumpangan Arthur seakan terlarut dalam kesedihannya.

Ruangan gerbong yang penuh coretan korban vandalisme sebagai suatu simbol ketidak aturan.

Hanya ada lima orang termasuk Arthur dalam gerbong tersebut, tiga pria muda yang berpakaian layaknya eksmud ibu kota sedang menggoda penumpang perempuan yang sendirian sedang asyik membaca buku.

Tindakan mereka hampir saja mengarah pada pelecehan seksual. Mungkin karena masih dilanda tertekan dan begitu sedih Arthur kembali tertawa tanpa bisa dikontrol.

Suara tawa yang memang tidak akan kamu inginkan mendengarnya di tengah malam, ketika sendirian dalam kamar. Atau kala heningnya perpustakaan.

Tentu saja perhatian berpindah kepada Arthur, menjadi korban kejahilan hingga berujung pengeroyokan. Ia memang terlihat tidak bisa melawan meski telah mencoba.

Karena sudah terdesak Arthur akhirnya mengeluarkan tembakan, dua orang terkapar dan satunya mencoba kabur dari kereta. Hingga bernasib sama meregang nyawa.

Pada bagian ini juga cukup janggal, bagaimana seseorang yang baru memegang pistol bisa menembak tepat sasaran. Bahkan korban terakhir berjarak lebih dari 5 meter.

Tembakan beruntun di stasiun bawah tanah juga tidak menimbulkan kegemparan, apakah karena memang sudah sangat sepi di malam hari.

Setelah sukses menghilangkan tiga nyawa, Arthur baru lah mulai panik. padahal sebelumnya Ia terlihat tanpa ampun ketika menembaki korban terakhir.

Arthur berlarian hingga menuju salah satu toilet umum, awalnya terlihat begitu menyesal. Namun mulai perlahan menari dengan begitu bersahaja.

Lagi dan lagi, kemampuan Hildur Guðnadóttir dalam mengolah musik selalu sukses membuat suasana gloomy syarat emosional, tentu juga didukung oleh sajian cinematography nan apik buah tangan Lawrence Sher.

Perlahan ketakutan Arthur mereda dan sepertinya mulai lega, tidak begitu terlihat lagi apakah ada penyesalan yang tersisa.

Mungkin saja ini sebagai pelepasan dari semua ketidak adilan dan semena-mena dari lingkungan sosial, sehingga Ia puas setelah menumpahkan semua rasa muak?

Berita pembunuhan ini tentu saja menghebohkan kota Gotham, bahkan Thomas Wayne angkat bicara. Karena tiga orang korban adalah karyawan dari perusahaannya. Ia menyatakan bahwa tindakan ini ulah seorang pria pengecut yang berlindung di balik topeng.

Hal ini membuat Arthur menjadi semakin terprovokasi, hebatnya bagi kebanyakan warga Gotham insiden pembunuhan malah disambut baik. Bagai kisah orang kaya jahat yang menindas kalangan miskin tidak berdaya. Kemudian amarah mereka terwakili oleh pria badut tersebut.

Namun, sayangnya pada bagian ini tidak begitu dijelaskan dengan jelas kenapa bisa memicu kemarahan massa. Karena memang cerita pada film Joker (2019) fokus kepada kisah Arthur Fleck pada masa sebelum menjadi Joker seutuhnya.

Lanjut menonton,

Dengan suatu ketidak sengajaan, Arthur membuka surat Penny untuk Thomas. Di situ dituliskan bahwa Ia dan anaknya sedang butuh bantuan.

Fakta menarik ya, apakah ini suatu indikasi kalau seorang Joker villain yang adalah saudara Batman (Bruce Wayne).

Dengan penuh ketakutan karena Arthur menjadi marah menemukan fakta yang telah sekian lama tidak Ia ketahui, Penny menjelaskan bahwa sengaja ditutupi karena ini akan bisa memberikan masalah terhadap Thomas. Cinta memang bisa membuat seseorang menjadi buta.

Dengan sangat penasaran Arthur mengunjungi kediaman Thomas Wayne, Ia hanya bertemu dengan Bruce Wayne yang masih anak-anak (Dante Pereira-Olson) dan Alfred (Douglas Hodge).

Arthur mencoba untuk lebih bersahabat dan memberikan bunga kepada Bruce, meski Alfred akhirnya memarahinya. Sebagai orang asing yang tiba-tiba muncul di depan gerbang rumah orang sangat kaya tentu akan memudahkan muncul kecurigaan.

Pengakuan anak Penny Fleck membuat wajah Alfred seperti terkejut, meski Arthur mencoba ramah menyatakan ingin bertemu dengan ayahnya Thomas Wayne. Alfred menyatakan ibunya adalah pembohong.

Dengan marah Arthur mencekik leher Alfred dan menariknya ke gerbang besi yang memisahkan mereka. Namun, hal ini tidak berlangsung lama karena Ia kemudian berlari meninggalkan Alfred.

Bagaimana rasanya mencari kebenaran mengenai identitas orang tua dan kemudian malah mendapat penghinaan?

Dengan rasa kecewa penuh mendalam Arthur kembali pulang, setibanya di apartemen Ia dikagetkan karena ibunya sedang terkapar di kasur dan sedang akan dinaikkan ke mobil ambulance. Penny tidak sadarkan diri.

Ketika di rumah sakit, muncul lah dua orang detektif. Orang-orang ini lah yang telah menyebabkan ibu Arthur shock karena ditanyai kasus pembunuhan.

Arthur menjadi marah meski masih memberikan informasi mengenai kasus pembunuhan yang terjadi. Dengan mengelak tentu saja. Ia dicurigai karena berprofesi sebagai badut dan memiliki pistol.

Yang anehnya status kepemilikan pistol ini tidak ditanyai lebih mengenai perizinan. Dan dengan mudah Arthur meninggalkan mereka berdua karena alasan menjaga ibunya.

Dalam ruang perawatan pasien, Ia ditemani oleh Shopie. Kemudian ketika Murray tampil dengan show di televisi, Ia memutar rekaman video Arthur ketika pertama kali melakukan pertunjukan. Bukan untuk memuji namun malah menertawakan, menjadikan orang lain sebagai bahan lelucon tentu hal yang cukup jahat untuk dilakukan.

Dipecat dari pekerjaan, melakukan pembunuhan, mendapatkan fakta bahwa punya ayah yang disembunyikan identitasnya, diusir dari rumah si ayah dengan mendapat penghinaan, sepulangnya harus menemani ibu yang tidak sadarkan diri karena shock. Dan sekarang dipermalukan di televisi. Sungguh malang nasibmu Arthur.

Arthur tidak menyerah begitu saja, Ia kali ini mencoba langsung menemui Thomas Wayne di kegiatan amal. Di depan gedung pertunjukan demonstrasi menggunakan topeng badut juga berlangsung. Dengan tersenyum bangga Ia melintasi rombongan. Sepertinya Ia merasa seakan melakukan tindakan yang bisa berarti buat orang banyak.

Karena sepanjang kisah ini dijabarkan, sosoknya hanya lah sebagai pria biasa yang bekerja sebagai badut, orang yang tidak begitu penting dalam kehidupan sosial. Mudah dianggap remeh dan buktinya banyak mengganggap aneh dan bullying sudah begitu akrab diterima.

Pertemuan dengan Thomas Wayne juga tidak berlangsung baik, Ia begitu sinis bahkan menyatakan bahwa ibu Arthur memiliki gangguan arsistik dan delusi.

Hingga juga menuturkan bahwa Arthur adalah anak adopsi, penyakit PLC yang diderita kembali kambuh. Tawanya membuat Thomas muak hingga melayangkan pukulan ke wajah.

Hanya meminta kejelasan status, tidak diakui oleh orang yang dipanggil ayah. Dinyatakan sebagai adopsi dengan ibu mengidap mental illness narsistik dan delusi. Dan juga menerima tindakan kekerasan.

Sungguh film ini selalu membuat penonton menghela nafas panjang.

Diantara kesedihan dengan beragam sulitnya cobaan yang dihadapi, Arthur mendapat secercah harapan ketika suatu panggilan telepon menyatakan mengundangnya ke Murray Franklin Show. Wajahnya kembali bahagia. Suara wanita dari telepon menyatakan mereka mendapatkan banyak panggilan suara selepas pemutaran video pertunjukan Arthur.

Dengan masih penasaran Arthur berangkat ke Arkham Asylum untuk mengunjungi rumah sakit jiwa. Ia mencari arsip 30 tahun lalu mengenai Penny Fleck, petugas awalnya menolak, dengan memaksa Arthur merampas semua arsip.

Faktanya, di situ tertulis Penny mengajukan hak adopsi. Dan anaknya menjadi korban tindakan abusive, bahkan pernah diikat di radiator. Ada kliping koran yang juga membahas hal tersebut.

Hal ini membuat Arthur menjadi sangat kecewa dan marah. Hingga sekembalinya ketika menemui Penny di rumah sakit, Ia membunuhnya dengan menutupi semua wajah dengan bantal.

Arthur juga mengunjungi rumah Shopie, kemunculannya secara tiba-tiba membuat Shopie terkejut. Dan memintanya untuk meninggalkan ruangan. Di sini baru dijelaskan semua momen yang mereka lalui hanya lah bagian dari halusinasi.

Setelah kejadian ini Arthur ditampilkan mewarnai rambut dan sedang memoles wajah dengan dominan warna putih. Terlihat foto ibunya dengan sisi belakang yang bertuliskan “I like you smile” TW.

Apakah ini memang ditulis oleh Thomas Wayne atau malah hasil karya Penny gabungan dari gabungan narsistik dan delusi?

Mendengar kabar duka atas kematian ibu Arthur, mantan rekan kerjanya di Ha-Ha yaitu Randall dan Gary (Leigh Gill) datang berkunjung. Namun apa yang terjadi?

Percakapan basa-basi yang tidak berlangsung lama, kemudian dengan gerakan secara tiba-tiba Arthur menusuk leher Randall dengan gunting yang telah Ia persiapkan. Serangan dilancarkan bertubi-tubi ke leher dan berakhir di mata.

Oke, Arthur bukan lagi pria rapuh tidak berdaya yang mudah dijadikan korban kekerasan, Ia telah menjadi pembunuh dan setelah melakukan ini terlihat begitu lega dengan senyum penuh kepuasaan.

Menariknya Gary yang dianggap paling berlaku baik terhadapnya di tempat kerja, dibiarkan pulang tanpa harus menjadi korban pembunuhan selanjutnya.

Setelah membunuh Randall, Arthur makin terlihat lebih bahagia. Terbukti ketika menuruni tangga Ia menari dengan gerakan penuh suka cita. Hingga dua detektif yang mengikutinya menjadi terheran, meski akhirnya terjadi kejar-kejaran.

Arthur telah berdandan gagah untuk menuju studio Murray Franklin Show, Ia terbantu meloloskan diri karena para detektif terlibat masalah dalam kereta, bentrok dengan para pendemo membuat mereka mengalami kekerasan fisik.

Setibanya di studio Arthur minta dikenalkan sebagai Joker ketika Murray mulai memanggil namanya.

Pemanggilannya untuk mengikuti show masih saja dijadikan bahan lelucon bagi Murray untuk memancing tertawa penonton. Hingga Arthur mengaku melakukan pembunuhan dan melepaskan semua rasa muak.

Bagaimana kerasnya menjadi orang yang dianggap remeh, bahkan dipandang sebagai sampah dan diundang oleh Murray untuk dipermalukan di depan umum.

Dengan berapi-api Arthur menuturkan kekesalan ditutup dengan melepaskan tembakan membuat Murray tak bernyawa, bahkan tembakan tetap dilepaskan beberapa kali hingga peluru habis.

Siaran televisi tetap berjalan, studio menjadi kosong karena semua penonton serentak membubarkan diri. Sekali lagi menghebohkan warga Gotham, dan tidak lupa Arthur juga menyatakan kekesalan kepada Thomas Wayne. Sepertinya ini yang memicu orang tidak dikenal menembaki Thomas dan istrinya.

Dan bukannya menjadi momok menakutkan, malah. Arthur Fleck yang telah berubah menjadi Joker secara utuh dipuja bagaikan pahlawan. Meski tindakannya begitu sadis, para massa dengan topeng badut melakukan kerusakan di berbagai sudut kota Gotham.

Joker yang telah ditangkap dan dibawa oleh mobil polisi bahkan dibebaskan dengan cara yang tidak biasa. Mobil yang Ia tumpangi ditabrak, kemudian Ia disambut dan dipuja. Ini membuat Joker senyum sumringah. Dan entah kenapa pada momen ini saya juga merasa ikut bahagia.

Apakah ini telah usai?

Ternyata tidak, pada scene penutup kita disuguhkan dengan Joker yang berdialog bersama seorang psikiater dalam ruangan dengan tangan diborgol. Percakapan ditampilkan singkat, kemudian Ia berlalu keluar ruangan dengan jejak kaki meninggal bekas berwarna merah.

Yap, sepertinya adalah darah. Mungkin saja pembunuhan telah kembali terjadi.

Dan apakah semua kisah dari awal film Joker hanyalah delusi, cerita yang Ia jabarkan kepada psikiater? Who know

Film Joker (2019) begitu syarat emosional, membuat shock setelah menonton. Dan bahkan menyisakan teka-teki dengan caranya.

Tomi memiliki sedikit kemampuan fotografi dan desain grafis, serta videography.Cukup suka menonton film dan travelling.Saat ini sedang menjual es warna warni. Dan kembali belajar menulis di Quora.

2 comments On Review Film Joker (2019), Villain yang Menjadi Pahlawan

Leave a Reply

%d bloggers like this: